Renungan Injil untuk hari minggu, 31/12-2011
(Luk 2,16-21)
B |
angsa Israel memang sedang hidup dalam suatu iklim batin yang penuh harap-harap cemas! Cemas karena banyak pria telah terbunuh dalam pemberontakkan melawan Roma atau tertangkap dan terpenjarah di perasingan. Kendati pun masyarakat tetap menaruh harappan akan munculnya seorang pria dengan semangat juangnya yang gagah-berani seperti raja Daud untuk dapat membebaskan bangsa Israel dari cengkraman Roma. Mereka tidak merasa jenuh untuk berharap, sebaliknya tetap menaruh percaya bahwa cepat atau lambat akan muncul seseorang yang mampu membebaskan rakyat Israel dari jajahan. Percaya bahwa Allah akan memunculkan dari tengah mereka seorang pembebas yang pantas menjadi teladan hidup dan panduan iman. Pemimpin harapan itu akan lahir dari keluarga yang cukup sederhana, yang tahu apa artinya penderitaan, yang cara hidup serta perbuatannya pantas menjadi contoh. Ia seyogianya dari keluarga yang sederhana dan yang mampu memberikan asuhan yang sesuai lewat perkataan dan tindakkan baik di hadapan Allah maupun sesama. Harapan dan kepercayaan itu mereka selalu memanifestasikannya pada saat lahirnya setiap bayi. Harapan itu, menurut kelompok kristen, terpenuhi dengan lahirnya Yesus dari Nazaret dari seorang gadis desa yang sederhana namun teguh imannya, dialah Maria.
Penginjil mengatakan bahwa Maria memberi nama Yesus ssuai dengan apa yang dikatakan malaikat Allah. Member nama, dalam tradisi Yahudi berarti bertanggungjawab sepenuh atas keselamatan hidup dan masa depan dari orang (atau hewan mau pun tumbuhan) itu. Maria diberi kepercayaan oleh Allah – dan bukan kepada Yusuf – untuk bertanggungjawab sepenuhnya akan hal itu. Dalam tradisi Yahudi, tugas memberi nama baik kepada hewan atau tumbuhan maupun kepada manusia, hanya dapat dilakukan olah kaum pria, tetpi dalam tradisi Gereja Lukas, pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama di hadapan Tuhan dan manusia. Hal lain yang menarik perhatian kita ialah bahwa Maria diurutkan pada tempat pertama diikuti oleh Yusuf kemudian bayi. Yang lazimnya sesua tradisi Yahudi, Yusuflah harus diurutan pertama. Santo Lukas, sebagai manusia beriman membuat perubahan social dalam kehidupan iman komunitas-Gerejanya. Tindakkan keadilan seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sungguh dewasa dalam kehidupan keimanan yang sehat, dewasa lagi jujur. Bagaimana sikap hidup kita dalam keluarga Dan masyarakat, apakah kita bertindak adil, jujur dan bijaksana terhadap kaum wanita? Apakah kita memperlakukan mereka sebagai makluk sesama dan sederajat?
Hal lain yang ditampilkan oleh Lukas tentang Maria ialah bahwa ketika mendengar ceritera para gembala mengenai apa yang dikhabarkan oleh malaikat kepada mereka, Maria justru menyimpan semuanya dd dalam hatinya dan merenungkan. Di sini, Maria ditampilkan sebagai seorang wanita pendoa, ia tidak membiarkan lewat begitu saja segala peristiwa kehidupan sehari-hari tanpa sebelumnya direnungkan dalam hati untuk mencari makna Allah. Mencari apa yang dikehendaki oleh Allah melalui peristiwa itu untuk kemudian bisa mengambil posisi sesuai dengan pesan yang disimak selama renungan yang dan atau doa. Begitulah cara hidup seorang manusia beriman, sesuai dengan wawasan penginjil santo Lukas. Banyak kali kita temukan orang-orang yang hanya mempunya agama dan kepercayaan tetapi tidak atau kurang memiliki iman yang dalam, teguh lagi setia, yang dapat divisualisasi dan diverifikasi kualitanya lewat tindakkan dan perbuatan sehari-hari. Apakah anda seorang manusia beriman atau yang beragama (sistem) dan percaya (sesuatu yang masih dalam keragu-raguan, tidak pasti, masih dalam kebingungan)?
Perlu pula diingat bahwa dalam tradisi kehidupan mistik dan spiritual bangsa Yahudi, orang-orang yang melakukan hal-hal kemanusiaan yang luar biasa terhadap semua orang, terlebih bagi kaum kecil, tertindas dan yang membutuhkan pertolongan, mereka itu dijuluki sebagai yang berjiwa anggelikal (kemalaikatan). Kata malaikat di sini bisa dapat diartikan dalam paham seperti itu. Artinya bahwa segalah perbuatan kemanusiaan yang kita lakukan bagi sesama adalah cara kita merevelasikan wajah Allah kepada orang lain. Dalam bahasa teologis kristen yang lebih dikenal ialah alter Khristus (Kristus yang lain). Bagai perbuatan kita sehari-hari, apakah merevelasikan wajah Allah yang penuh kasih setia, pengampun, bijaksana, yang adil dan jujur, tanggungjawab kepada sesama? Atau menampak wajah Allah yang kejam, pendendam, penghukum, dll.? Inilah tantangan kita sebagai orang beriman kristen secara khusus dan sebagai anak-anak Allah pada umumnya.
Kiranya pada tahun yang baru (2012) ini kita semakin tumbuh dan berkembang bersama dengan keteladanan dari hidup keimanan Maria dalam perjalanan sebagai murid-murid Kristus menuju Bapa di Surga. Seomag berkat Tuhan turun atas anda semua, dan semoga segalah cita-cita dan harapan hidup untuk tahun yang baru ini senantiasa dicapai dalam naunganNya. Dan semoga lewat bacaan dan renungan ini kita semakin diperkuat dan dipersatukan dalam semangat persaudaraan kristis.
_______&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 31/12-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM
Nenhum comentário:
Postar um comentário