sábado, 25 de fevereiro de 2012

KEGERSANGAN YANG SUBUR: RUANG PENEMUAN, PEMBAHARUAN DAN PENGUATAN ARTI DAN NILAI KEHIDUPAN

Refleksi dari Injil untuk minggu pertama Prapaska, 26/02-2012
(Mrk 1,12-15)
S

esuai tradisi Kitab Suci dan juga tradisi dari bangsa Yahudi, situasi padang gurun yang kering dan gersang adalah simbol dari tantangan atau percobaan bagi kehidupan serta arti dan nilai-nilai keberadaannya. Tuhan menghantar umatnya (Kel 13,17-22) ke padang gurun di antara kumpulan hewan buas dan setan-setan (Yes 30,6; 34,14) untuk mendapatkan percobaan (Ul 8,2-6.15s). Dan di padang gurun itu bangsa Israel bersungut-sungut  melawan Allah (Kel 16,2-3; Bil 11,1-6; Kel 17,1-7;Bil 20,1-13; juga 14,1-4; 21,4-9; Ul 9,22-24; Mzm 94,8-11).
Kisah dari Markus, dalam teks ini, yang mangatakan bahwa Yesus didorong oleh Roh Allah ke padang gurun (ay.12), adalah lebih dari kisah faktual historis, merupakan ceritera simbolis dan yang bersifat komparatif: Yesus adalah personifikasi dari “Israel baru” yang berprinsip, yang tegar lagi setia, konsisten, koheren, tidak menyerah, tidak dapat dipengaruhi (atau digodai) untuk melakukan hal-hal di luar komitmen terhadap nilai dan arti dari kehidupan, gigih dalam perjuangan untuk mengkonservasikan prinsip kesetiaan dan tanggungjawab sampai pada tetes darah yang terakhir. Kalau Yesus pernah atau tidak ke padang gurun dan tinggal sampai 40 hari lamanya sampai dicobai, itu hal yang sangat sekunder, artinya, bukan merupakan maksud utama dan pertama dari kisah penginjilan. Melalui ceritera itu penulis sebenarnya mau membuat suatu komparasi antara “Israel lama” (bangsa Yahudi) yang tidak setia dengan “Israel baru” (umat kristen) yang pantang menyerah dalam godaan. Yesus adalah seorang pribadi yang amat konsisten, koheren dan konsekuen sekaligus merupaka personifikasi (pelambangan) ciri-ciri dari kualitas kepribadian dari kelompok tertentu.
Situasi kegersangan dan kekeringan dari dunia padang gurun, selain meruapan kondisi faktual alami, ia juga menjadi lambang dari tantangan atau percobaan (godaan) terhadap nilai dan arti dari hidup dan kehidupan kita sehari-hari, baik itu di dalam sosietas, dalam keluarga atau komunitas-komunitas persaudaraan karismatis (biara-biara religius), mau pun dalam kehidupan gereja kristen pada khususnya dan keagamaan pada umumnya, serta dalam institusi kepemerintahan politik, dalam dan luar negeri. Terkadang nampak bahwa orang orang yang tinggal di daerah yang kering kerontang kelihatan menunjukkan kehidupan batin yang lebih sejuk, subur lagi bersahabat dan penuh keharmonisan dalam relasi dan interaksi dari pada orang orang yang menetap di wilayah yang tanahnya berhumus lagi dinaungi oleh dedaunan hijau dari beribu macam pepohonan serta diliputi oleh berbagai jenis kekayaan dan kesempatan hidup. Seperti pepatah kuno, tetapi tetap aktual, yang mengatakan: “Bagaikan itik yang berenang dalam air, mati kehausan; ibarat ayam yang bertelur dalam padi, mati kelaparan”. Begitulah keanehan yang nyata dalam kehidupan ini. Keadaan dunia sekarang ini, misalnya, menggambarkan suatu situasi kehidupan kemanusiaan yang sungguh gersang dan penuh erosi mentalias dan moral kepribadiannya ibarat suatu padang gurun yang konkret dari pada orang-orang yang menghuni gurun Sahara. Nyatanya di dalam milenium ke III ini masih saja ada terjadi di mana-mana kekerasan, kejahatan, permusuhan, penghujatan, kebencian, dendam, brutalitas, kriminalitas (pencurian, perampokan dan jenis-jenis korupsi lainnya), pemfinahan dan peperangan dan lain-lain. Dunia yang sungguh penuh dengan agama tanpa keselamatan, penuh pengadilan tanpa keadilan, penuh pemimpin tanpa kepemimpinan, penuh keluarga tanpa kekeluargaan, penuh sesak dengan manusia tanpa rasa kemanusiaan. Semua orang berusaha untuk mempersenjatai diri untuk saling melukai dan membunuh dan untuk membunuh diri sendiri; semuanya ramai ramai mencari racun untuk saling meracuni dan meracuni diri sendiri. Dunia sungguh tidak lagi menampakkan wajah kemanusiaan yang ramah dan bersahabat layaknya tempat penghuni insan yang berbudi luhur lagi berakal sehat serta memiliki tenggang rasa, tetapi lebih berupa “kebun binatang” alam yang ganas lagi brutal, dimana antara binatang saling membunuh untuk dapat bertahan hidup, sesuai “hukum kekuatan” (otot-otot fisik yang dimotorisasi oleh kecenderungan insting animalis) dan bukan “kekuatan hukum” (prinsip etika dari moral adat sosial dan religius, yang dibangun atas dasar-dasar rasa kasih sayang, saling menghargai dan kesetiaan cinta sebagai manusia sejati yang berakal sehat dan berbudi luhur).
Empat puluh hari lamanya Yesus di padang gurun (ay. 13) adalah angkah simbolis yang melambangkan 40 tahun bangsa Yahudi di padang gurun Sinai (Bil 14,34; juga, 1Raj 19,8; Ul 2,7; 8,4; 9,9.11.18.25; 10,10) ketika keluar dari Mesir menuju tanah “terjanji” di mana mengalir “susu dan madu”. Sesuai konsep pemahaman bangsa Yahudi, umat manusia yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah dan kemudian dianggkat menjadi anak dalam Anak (Kristus), senantiasa dihampiri setiap saat oleh iblis untuk digodai dan dicobai ketahanan mental dan moral kepribadiannya (cf. Kej 3,1-7; 1Taw 21,1; Kebj 2,24).
Dikatakan bahwa Yesus barusan memulai menjalankan tugas penginjilannya di Galilea setelah Yohanes Pemandi ditangkap dan dipenjarakan oleh Herodes (ay14). Afirmasi itu mau mengatakan bahwa segalah jenis kegersangan dan erosi moral dan mental kehidupan sudah sampai saatnya untuk ditinggalkan. Manusia kiranya mulai menanggalkan kemanusiaan lama yang adamis untuk mengenakan kemanusiaan baru yang kristis. Suara yang berseru di padang gurun sudah mengkonklusikan tugas panggilannya untuk mengundang semua orang kembali ke jalan Allah, tinggal saja keputusan dari masing-masing pribadi. Segalah jenis kejahatan kiranya terpenjara bersama Yohanes, sang suara Allah yang terkurban.
“Corong” di mana keluar suara Allah yang memanggil umatnya memang sudah ditutup tetapi gema kasih Tuhan tak pernah berakhir, sebaliknya bergaung bertalu-talu dan gemanya pun terus bersahut-sahutan dari masa ke masa ke seluruh penjuru, dari generasi ke generasi. Karena itulah alasannya mengapa Yesus, pada mengawali pewartaannya mengulangi isi seruan dari Yohanes untuk mengisyaratkan masa baru berahkmat: “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Ubalah cara hidupmu dan percayalah kepada Injil” (ay. 15).
Seruan Yohanes yang diperkuat oleh Yesus itu kini menggema di dalam nurani kekristenan kita, mengalir membasahi jiwa bersama air permandian yang mengundang untuk berubah sikap mental dan tindakkan-tindakkan dalam kehidupan berelasi dan interaksi: membangun perdamaian lewat perbuatan-perbuatan damai, menyebarkan keadilan dan hak asasi melalui tindakkan tindakkan konkret yang adil dan jujur. Saatnya untuk menghilangkan mentalitas kepemimpinan yang tirani, kolonialis lagi feodalis (dari atas dan sentralis) untuk dapat memulai membangun cara hidup koordinatif yang berpartisipatif dan dialogal dalam iklim yang sungguh persaudaraan. Mampukah kita untuk melakukannya? Itulah tantangan konkret kita sebagai umat manusia ciptaan Allah pada umumnya dan sebagai murid-murid Kristus para khususnya, serta lebih khusus lagi, bagi kita kaum religius yang gemar berbicara tentang persaudaraan lagi biasa berapi-api mengkhotbakan umat akan keadilan, kejujuran, hak asasi, otonomi, dialog dan kebebasan. Bagaimana dengan prakteknya dalam kehidupan di dalam gereja dan kongregasi?????
_______&&&________ Belo Horizonte, Brasil, 25/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng,cmm.

sábado, 18 de fevereiro de 2012

MANUSIA: PEMBAWA RAHKMAD DARI PENCIPTA ILAHI

(Mrk 2,1-12)
Refleksi Injil untuk hari minggu, 19/02-2012
M
anusia bukan diciptakan sebagai makluk panada rahmad belaka, atau pula ibarat pengemis buta lagi lumpuh yang hanya menunggu rahkmad sepenuhnya dari uluran-uluran tangan  keprihatininan, dari surga dan dari bumi. Bahkan manusia dengan keadaan fisik ini pun dibekali dengan kemampuan kealahan dari Pencipta kudus. Asal-usul manusia pun bukan pertama-tama dari debu tanah liat melainkan, sebelumnya, adalah dari bahagian keilahian Sang pencipta alam semesta. Ia dikirim ke dunia bukan ibarat karung kosong yang dilemparkan begitu saja ke alam terbuka, tetapi sebagai mahkluk yang dibekali secara lengkap dengan bakal-bakal bakat dan ketrampilan khusus untuk dapat mengolah hidup di alam ciptaan. Maka itu, sebelum ditempatkan di dunia ini, ia sudah dilengkapi dengan “segumpal otak” untuk berpikir secara kritis, logis dan selaras sesuai norma kehidupan insani yang berbudi luhur; ia juga diberikan “sebuah hati” untuk merasa, menelaah dan memahami secara dalam, sehat dan seimbang sebagaimana layaknya anak-anak Allah; dan pada akhirnya, ia pun diserahkan “sepasang ginjal” untuk merangsang, menggairahkan dan membangunkan semangat juang tanpa pamrih demi pelestarian hidup dan kehidupan, baik pribadi mau pum bersama sebagai kawan sekerja Allah di muka bumi ini. Karena itulah makanya ia diciptakan segambar dan serupa dengan Pencipa, dipanggil untuk menerima kemampuan hidup dan kehidupan lewat Roh Allah dan diutus untuk beroperasi, meneruskan karya penciptaan Tuhan sampai sepanjang masa. Dia adalah duta untuk membawah Rahkmad Allah bagi sesama.
Sikap penolakkan dari kaum levi dan kaum farisi terhadap perkataan dan perbuatan dari Yesus membuktilan bahwa mereka kehilangan keaslian identitas mereka sebagai bangsa terpilih oleh Allah. Itu artinya, bahwa manusia dan Allah, sesuai pemahaman dari nenek moyang (spiritualitas asli) sejak berjuta-juta tahun sebelumnya, bukanlah merupakan dua realita yang saling beroposisi tetapi sebaliknya berkomposisi, saling keterkaitan, mustahil adanya satu tanpa keberadaan yang lain. Singkatnya, manusia dan Allah adalah dua bahagian dari satu realita (atau Sat) yang saling melengkapi.
Dua pesan utama dapat ditemukan dalam teks ini: pertama, “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di dunia ini” (ay.10), dan yang kedua, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan pulanglah ke rumahmu” (ay.11). Kedua pesan itu didahului dengan satu sapaan kekeluargaan: “Hai anakku”(ay. 5). Penginjil juga mengatakan bahwa Yesus mulai menyapa secara akrab orang lumpuh tersebut setelah melihat “iman orang-orang” – keempat pengusung (sensus fidelium = situasi batin kolektif yang penuh rahkmad). Artinya bahwa sapaan kekeluargaan itu tumbuh dari dasar iman kolektifitas dan iman pribadi yang pada akhirnya membuahkan penyembuhan bagi orang yang tadinya lumpuh. Menurut penginjil Markus, bila semua orang dapat memupuk hidup keimanannya yang solider, sehat, selaras, toleran, adil lagi bijaksana dan dalam semangat kekeluargaan maka, dengan kekuatan bersama itu, dapat dihindari berbagai jenis kelumpuhan hidup psikoemosional dan moral/spiritual, baik pribadi maupun bersama, baik di dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam komunitas religius (dalam kehidupan keagamaan) maupun dalam semua instansi kepemerintahan. Karena pengalaman iman membuat kita semua saudara dari satu keluarga kudus Allah.
Dalam Kitab Kejadian dikisahkan bahwa Allah setelah membentuk tubuh manusia dari tanah liat segambar dan serupa dengannya (cf. Kej 1,26), dihembuskannya ke dalam tubuh itu nafas hidupnya sendiri dan tubuh itu pun mulai mendapat kehidupan (cf. Kej 2,7). Itu artinya bahwa di dalam tubuh manusia itu sendiri terdapat nilai harkat dan mertabat keilahian dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Dengan kata lain, manusia adalah Roh Allah dalam bentuk tubuh yang hidup dan beroperasi di muka bumi. Santu Paulus telah mengatakan hal itu dengan amat jelas bahwa tubuh manusia adalah kenisah Roh Allah (cf. 1Kor 6,19). Bila hal itu benar maka hidup dari manusia (pikiran, perasaan, keinginan, perkataan dan tindakan) seluruhnya dituntun oleh Roh Allah sendiri. Manusia seyogianya mencari semata kehendak Allah dan melaksanakannya, karena untuk itulah ia diutus: “Makananku adalah melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku dan melaksanakan pekerjaannya” (Yoh 4,34). Itulah misi dari semua orang beriman. Manusia dimampukan dengan Rahkmad kehidupan Allah dan diordenasikan (diberikan kuasa) untuk mewakili (sebagai kooperator) Allah di dunia guna meneruskan karya penciptaannya, termasuk kuasa untuk mengampuni, kelemahan dari diri sendiri dan sesama.
Pesan yang kedua adalah merupakan aksi pembebasan dari manusia itu sendiri, aksi dari restrukturasi, reintegrasi. Iman yang sejati adalah iman yang sehat, yang menyelamatkan, yang membebaskan, iman yang membangun, yang membuat orang lain memiliki kepercayaan diri untuk berjalan di atas kakinya sendiri (protagonis). Itulah iman yang dewasa, iman yang benar. Orang-orang yang percaya akan Allah tetapi dalam hidup konkretnya menyusahkan sesama manusia, berusaha untuk melukai baik secara moral psikologis maupun fisik dan spiritual, bahkan sampai merusak harta benda dan mencabut nyawa seseorang adalah kafir, perbuatan itu pertanda iman penyakitan yang bertopeng agama. Orang-orang semacam ini tak pantas disebut anak Allah yang Kudus tetapi keturunan ular beludak, adalah anak-anak setan, musuh Allah. Inilah tantangan bagi semua umat manusia iman di seluruh penjuru bumi pada milenium yang ke tiga ini. Manusia beriman kudus mustahil ada tersimpan di dalam pikiran, perasaan dan kehendaknya hal-hal kejahatan yang mendatangkan musibah hidup bagi sesama manusia.
_______&&&________
Belo Horizonte – Brasil, 18/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

sábado, 4 de fevereiro de 2012

HIDUP SOLIDER: JALAN MENUJU KE KEMANUSIAAN YANG SEHAT DAN DAMAI

Refleksi Injil untuk hari minggu, 05/02-2012
(Mrk 1,29-39)
M

ustahil adanya  keselamatan tanpa penyelamat. Manusia pada hakikatnya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa ada campur tangan – langsung atau pun tidak langsung – dari orang lain. Itu artinha, bahwa manusia itu adalah sepenuhnya makluk sosial; dia adalah suatu individu interdependensi (saling ketergantungan), maka itu sangat tidak masuk akal bila ada orang yang berkata bahwa ia tidak membutuhkan orang lain. Individualisme, tentunya, merupaka korupsi, suatu tumor yang menggerogoti sel-sel tubuh persatuan dan kesatuan hidup kemanusiaan yang sehat dan damai. Individu, oke. Tetapi individualisme, tidak.
Hidup di dunia ini adalah bersifat sejenak, suatu persinggahan sebentar, hanyalah suatu transisi. Selain bersifat sementara, hidup ini juga selalu berada di antara dua situasi, yang diharapkan juga yang tidak diharapkan, selalu dibayangi oleh saat-saat yang penuh kegembiraan dan penderitaan, tawa dan tangis senantiasa menemani pesiarahan hidup existensial kita selama di dunia ini. Begitualah kisah pengalaman refleksi dari kitab Ayub tentang makna dari hidupnya (cf. Ayb 7,1-4.6-7). Menurutnya, hidup ini ibarat angin yang berhembus, lagi pula hidup selalu dliputi oleh perasaan kegelisahan, siang dan malam (cf. ay. 4. 7). Penderitaan, dari sudut pandang psikologis, adalah suatu pengalaman yang pedih, tetapi, dari segi spiritual, ia juga sekaligus merupakan gerbang dari alam kehidupan transendental, jalan menuju ke kemanusiaan yang semakin manusiawi dan semakin dewasa, semakin memahami makna dari hidup itu sendiri dan pula semakin solider terhadap situasi. Orang yang pernah mengalami kepedihan hidup dan belajar dari padanya akan memahami apa artinya menderita dan karena itu akan menjadi lebih dewasa, lebih toleran, lebih manusiawi lagi lebih siap untuk menerima kenyataan dan menghidupinya dengan suatu situasi batin yang lebih penuh harapan dan kerpercayaan diri serta setia akan belaskasih Allah. Semangat hidup solider, dalam konteks ini, menjadi suatu sumber kebahagiaan (atau, Khabar Gembira Allah) yang sangat dinanti-nanti oleh semua orang. Solidaritas itu sendiri menjadi sejenis salep peringan bagi derita jiwa, baik itu derita akibat beban imajinasi (kegelisahan atau kesepian batin) yang tak tertanggung, maupun merupakan tanda kesementaraan atau kelemahan alami dari kondisi fisik, signal natural dari ketidaksempurnaan.
Pewartaan Khabar Gembira Allah – melalui perkataan yang disertai perbuatan, misalnya, seperti sikap hidup yang solider – bukan menjadi tanda kemegahan diri dari seseorang atau sekelompok orang tertentu, tetapi merupakan tugas dan tanggungjawab dari semua utusan Tuhan, tanggungjawab dari kita semua, laki-laki dan perempuan. Bukan hal paksaan, melaikan merupakan kesadaran Roh, kedewasaan jiwa, wujud dari iman, harapan dan kasih. Seperti di ekspresikan dengan amat jelas oleh santu Paulus yang merasa tidak tenang jiwanya bila tidak mewartakan Berita Gembira (Injil) Allah: “Celakalh aku jika aku tidak mewartakan Injil” (cf. 1Kor 9,16). Berita Gembira Allah, di sini, pertama-tama bukanlah makanan ataupun minuman, melainkan situasi ketenteraman batin dikarenakan oleh terjaminnya, antara lain, keadilan sosial, kebebasan secara integral, hak asasi bagi setiap individu serta semangat hidup solidaritas yang pedagogis, yang mendidik, yang membebaskan orang untuk semakin menjadi dirinya. Semuanya itu adalah merupakan wujud dari cinta yang berbelaskasih.
Ada tiga makna dari penderitaan: pertama, penderitaan dipahami sebagai isyarat untuk hidup lebih berhati-hati. Artinya bahwa suatu penderitaan yang diakibatkan oleh kelalaian pribadi atau orang lain. Misalnya, kecelakaan lalulintas, terjadi diakibatkan oleh kelalaian dalam mengemudi, baik itu dari pihak yang satu maupun dari yang lain. Yang kedua, penderitaan dipahami sebagai faktor alam. Itu artinya, bahwa dunia ini, pada hakikatnya, dibentuk oleh berbagai jenis kekuatan kehidupan yang selalu dalam konflik. Sesuai hukum alam, dalam knflik kekuatan itu yang lemah akan menjadi kurban dari yang lebih kuat. Sebagai contoh, misalnya seseorang menderita karena diserang oleh sejenis penyakit, atau terjangkit oleh suatu bakteri yang menyerang sel-sel tubuh. Dan yang ketiga, penderitaan dihayati sebagai bahagian dari proses persiapan untuk kembali ke alam baka. Misalnya penderitaan karena ketuaan, dalam mana fisik kian hari kian lemah dan tidak mampu lagi untuk melakukan sendiri apa yang menjadi kegemaran. Ini membuat orang menderita karena orang menjadi dependensi, selalu mengharapkan uluran tangan orang lain. Poin pertama dan kedua adalah suatu realita yang dapat diatasi dengan perawatan medis, tetapi situasi yang terakhir tidak dakan dirubah keadaannya, perlu diterima dengan sadar dan dewasa serta percaya akan rahmad kasih Allah, yang adalah satu-satunya sumber kekuatan dan harapan serta hiburan.
Penginjil Markus mengisahkan tentang Yesus yang mengulurkan tangan kasihnya sebagai tanda solidaritas terhadap orang-orang yang menderita dan yang membutuhkan pertolongan, dan ia membantu membebaskan mereka dari penderitaanya (tetapi tidak semuanya). Penginjil juga mengatan bahwa selain menyembuhkan penyakit, Yesus juga mengusir roh-roh jahat, kali ini bukannya di sinagoga tetapi di rumah keluarga. Ini berarti, problem kehidupan tidak hanya terjadi di ruang kehidupan umum (rumah ibadat), melainkan merambat sampai ke dalam ruang kehidupan privat (keluarga). Markus memaparkan langkah penyembuhan dari Yesus terhadap ibu mertua Simon dalam suatu nuansa sungguh religius: “Yesus mendekatinya, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia”. Mazmur 73,23 mengatakan bahwa Allah, dengan kekuatannya akan memegang tangan kanan umatnya, membimbingnya dengan nasihat dan sampai membawanya kepada kemuliaan. Cara penulisan penginjil Markus di sini, untuk mengingatkan kepada komunitas kristen tenteng kebangkitan (5,41; 9,27).
Penyembuhan yang dilakukan oleh Jesus, sesuai penginjil Markus, dilakukan setelah doa bersama di sinagoga dan diakhiri juga dengan doa secara pribadi. Penginjil juga menggarisbawahi bahwa roh-roh jahat sungguh mengenal identitas original dari Yesus. Kita semua dipanggil untuk hidup secara solider dengan semua orang demi membangun suatu relasi kasih Dan kehidupan yang semakin sehat dan damai, kini, saat ini dan di sini.

________&&&________
Belo Horizonte – Brasil, 05/02-2012
Fr. Lukas Betekeneg, CMM.

sexta-feira, 3 de fevereiro de 2012

METODOLOGI KEPEMIMPINAN YANG DEWASA DAN BERTANGGUNGJAWAB: VISI, AKSI, REVISI UNTUK RE-AKSI

Refleksi Injil untuk hari sabtu, 04/02-2012
(Mrk 6,30-34)
S

eseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang dewasa dan bertanggungjawab tak pernah akan merasa kecil atau pun terhina bila dikritik atau dievaluasi tugas pelayanannya, baik itu ketika menempati posisi sebagai pemimpin atau pun sebagai yang dipimpin. Suatu aksi misi tanpa visi dan revisi, aksi itu tidak akan mencapai hasil yang memuaskan, atau tidak sesuai dengan yang direncanakan (yang diharapkan). Ini berarti bahwa, revisi (atau, evaluasi dari aksi dan metodenya) merupakan bahagian strategis metodologis yang tak terpisahkan dari cara kerja orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang dewasa dan bertanggungjwab, kapan pun dan dimana serta di bidang kerja kehidupan apapun. Apa lagi bila itu berkaitan dengan tugas dari suatu misi. Visi, aksi misi, revisi untuk re-aksi, semuanya itu tentunya merupakan kunci sukses kerja bagi mereka-mereka yang mau berhasil dalam hidup profesionalnya. Revisi merupakan evaluasi dari visi awal dan rencana strategis metodologis yang diterapkan dalam aksi pertama, merefleksikan tentang semua kerberhasilan maupun kegagalan dari kerja awal agar dapat dibuat kembali (inovasi) rencana strategis baru untuk re-aksi dengan metode-metode yang lebih sesuai hingga dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Dari aspek kebijakkan coordinasi kerja seperti itulah para penginjil mengapresentasikan Yesus sebegai seorang Gambala baik sebagaimana didengungkan oleh para nabi. Sebagai seorang gembala yang baik lagi bijaksana serta dewasa lagi bertanggungjawab, selalu sibuk, tidak hanya untuk memperhatikan kehiduppan umat Allah pada umumnya, tetapi juga melihat kepada kebutuhan beristirahat bagi para pengikutnya untuk dapat mengevaluasi kerja perutusan serta merencanakan metode karja baru. Kata “istirahat” di sini, sudah mengantisipasi cara kerja dari seorang gembala yang baik lagi bijak (ay. 34) dalam mana sesuai dengan ungkapan nabi Yehezkiel 34,15 dan Mazmur 22,2, yang mengatakan bahwa Allah, yang adalah Gambala utama, menuntun sendiri kawanannya ke padang rumput yang hijau untuk dapat beristirahat. Waktu istirahat inilah yang sebenarnya dipergunakan oleh Yesus bersama para muridnya untuk membuat evaluasi dari “tugas misi yang dipercayakan kepada mereka” (6,6b-13).
Penginjil Markus mengisahkan tentang keinginan para murid untuk menceriterakan pengalaman kerja mereka kepada Yesus, sesuai yang diajarkan olehnya, setelah kembali dari tugas misi. Karena begitu banyaknya orang yang datang mengerumuni mereka maka, untuk dapat merealisasikan sharyng itu, Yesus meminta mereka untuk pergi mencari tempat yang cukup aman di seberang danau Genazaret (danau Galilea). Rencana mereka justru diketahui oleh masa dan akhirnya didahului di seberang dengan berjalan kaki untuk menantikan Yesus bersama para muridnya. Kehadiran masa yang sepertinya tidak ingin melepaskan kelompok Yesus dan para muridnya, justru menimbulkan rasa prihatin dari Yesus dan akhirnya sampai terharu, karena melihat keadaan masa seperti itu, yang lari ke sana-sini mengejar mereka, yang oleh Yesus diibaratkannya “bagaikan kawanan yang tidak mempunyai gembala” (Bil 27,17; 1Raj 22,17; Za 10,12). Nabi Yeremia pernah menggugat sikap ketidakpedulian dan tidak bertanggungjawab dari para pemimpin yang bekerja secara asal-asal (Yer 6,14; 8,11).
   Ketergerakkan hatinya terhadap situasi masa yang terlantar itu membuat Yesus harus menunda waktu istirahatnya untuk dapat melayani kebutuhan orang banyak. Seperti Bapa yang juga terus bekerja maka ia pun harus melipat-gandakan waktunya untuk berkerja, demi kasih (Yoh 5,17). Sikap pengorbanan tanpa pamrih ini sungguh menggambarkan cinta tak terbatas dari seorang ibu yang penuh rasa tanggungjawab terhadap kebutuhan anak-anaknya. Sikap Yesus inilah merepakan tantangan konkret bagi kita, pada umumnya dan para pemimpin khususnya. Bagaimana sikap kepemimpinan kita, apakah selalu terevaluasi atau tidak? Apakah anda bersedia untuk dikritik dan atau dievaluasi? Bagaimana sikap perasaanmu sebagai pemimpin terhadap mereka-mereka yang membutuhkanmu?
_________&&&__________
Belo Horizonte – Brasil, 04/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.