Refleksi dari Injil untuk minggu pertama Prapaska, 26/02-2012
(Mrk 1,12-15)
S |
esuai tradisi Kitab Suci dan juga tradisi dari bangsa Yahudi, situasi padang gurun yang kering dan gersang adalah simbol dari tantangan atau percobaan bagi kehidupan serta arti dan nilai-nilai keberadaannya. Tuhan menghantar umatnya (Kel 13,17-22) ke padang gurun di antara kumpulan hewan buas dan setan-setan (Yes 30,6; 34,14) untuk mendapatkan percobaan (Ul 8,2-6.15s). Dan di padang gurun itu bangsa Israel bersungut-sungut melawan Allah (Kel 16,2-3; Bil 11,1-6; Kel 17,1-7;Bil 20,1-13; juga 14,1-4; 21,4-9; Ul 9,22-24; Mzm 94,8-11).
Kisah dari Markus, dalam teks ini, yang mangatakan bahwa Yesus didorong oleh Roh Allah ke padang gurun (ay.12), adalah lebih dari kisah faktual historis, merupakan ceritera simbolis dan yang bersifat komparatif: Yesus adalah personifikasi dari “Israel baru” yang berprinsip, yang tegar lagi setia, konsisten, koheren, tidak menyerah, tidak dapat dipengaruhi (atau digodai) untuk melakukan hal-hal di luar komitmen terhadap nilai dan arti dari kehidupan, gigih dalam perjuangan untuk mengkonservasikan prinsip kesetiaan dan tanggungjawab sampai pada tetes darah yang terakhir. Kalau Yesus pernah atau tidak ke padang gurun dan tinggal sampai 40 hari lamanya sampai dicobai, itu hal yang sangat sekunder, artinya, bukan merupakan maksud utama dan pertama dari kisah penginjilan. Melalui ceritera itu penulis sebenarnya mau membuat suatu komparasi antara “Israel lama” (bangsa Yahudi) yang tidak setia dengan “Israel baru” (umat kristen) yang pantang menyerah dalam godaan. Yesus adalah seorang pribadi yang amat konsisten, koheren dan konsekuen sekaligus merupaka personifikasi (pelambangan) ciri-ciri dari kualitas kepribadian dari kelompok tertentu.
Situasi kegersangan dan kekeringan dari dunia padang gurun, selain meruapan kondisi faktual alami, ia juga menjadi lambang dari tantangan atau percobaan (godaan) terhadap nilai dan arti dari hidup dan kehidupan kita sehari-hari, baik itu di dalam sosietas, dalam keluarga atau komunitas-komunitas persaudaraan karismatis (biara-biara religius), mau pun dalam kehidupan gereja kristen pada khususnya dan keagamaan pada umumnya, serta dalam institusi kepemerintahan politik, dalam dan luar negeri. Terkadang nampak bahwa orang orang yang tinggal di daerah yang kering kerontang kelihatan menunjukkan kehidupan batin yang lebih sejuk, subur lagi bersahabat dan penuh keharmonisan dalam relasi dan interaksi dari pada orang orang yang menetap di wilayah yang tanahnya berhumus lagi dinaungi oleh dedaunan hijau dari beribu macam pepohonan serta diliputi oleh berbagai jenis kekayaan dan kesempatan hidup. Seperti pepatah kuno, tetapi tetap aktual, yang mengatakan: “Bagaikan itik yang berenang dalam air, mati kehausan; ibarat ayam yang bertelur dalam padi, mati kelaparan”. Begitulah keanehan yang nyata dalam kehidupan ini. Keadaan dunia sekarang ini, misalnya, menggambarkan suatu situasi kehidupan kemanusiaan yang sungguh gersang dan penuh erosi mentalias dan moral kepribadiannya ibarat suatu padang gurun yang konkret dari pada orang-orang yang menghuni gurun Sahara. Nyatanya di dalam milenium ke III ini masih saja ada terjadi di mana-mana kekerasan, kejahatan, permusuhan, penghujatan, kebencian, dendam, brutalitas, kriminalitas (pencurian, perampokan dan jenis-jenis korupsi lainnya), pemfinahan dan peperangan dan lain-lain. Dunia yang sungguh penuh dengan agama tanpa keselamatan, penuh pengadilan tanpa keadilan, penuh pemimpin tanpa kepemimpinan, penuh keluarga tanpa kekeluargaan, penuh sesak dengan manusia tanpa rasa kemanusiaan. Semua orang berusaha untuk mempersenjatai diri untuk saling melukai dan membunuh dan untuk membunuh diri sendiri; semuanya ramai ramai mencari racun untuk saling meracuni dan meracuni diri sendiri. Dunia sungguh tidak lagi menampakkan wajah kemanusiaan yang ramah dan bersahabat layaknya tempat penghuni insan yang berbudi luhur lagi berakal sehat serta memiliki tenggang rasa, tetapi lebih berupa “kebun binatang” alam yang ganas lagi brutal, dimana antara binatang saling membunuh untuk dapat bertahan hidup, sesuai “hukum kekuatan” (otot-otot fisik yang dimotorisasi oleh kecenderungan insting animalis) dan bukan “kekuatan hukum” (prinsip etika dari moral adat sosial dan religius, yang dibangun atas dasar-dasar rasa kasih sayang, saling menghargai dan kesetiaan cinta sebagai manusia sejati yang berakal sehat dan berbudi luhur).
Empat puluh hari lamanya Yesus di padang gurun (ay. 13) adalah angkah simbolis yang melambangkan 40 tahun bangsa Yahudi di padang gurun Sinai (Bil 14,34; juga, 1Raj 19,8; Ul 2,7; 8,4; 9,9.11.18.25; 10,10) ketika keluar dari Mesir menuju tanah “terjanji” di mana mengalir “susu dan madu”. Sesuai konsep pemahaman bangsa Yahudi, umat manusia yang diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah dan kemudian dianggkat menjadi anak dalam Anak (Kristus), senantiasa dihampiri setiap saat oleh iblis untuk digodai dan dicobai ketahanan mental dan moral kepribadiannya (cf. Kej 3,1-7; 1Taw 21,1; Kebj 2,24).
Dikatakan bahwa Yesus barusan memulai menjalankan tugas penginjilannya di Galilea setelah Yohanes Pemandi ditangkap dan dipenjarakan oleh Herodes (ay14). Afirmasi itu mau mengatakan bahwa segalah jenis kegersangan dan erosi moral dan mental kehidupan sudah sampai saatnya untuk ditinggalkan. Manusia kiranya mulai menanggalkan kemanusiaan lama yang adamis untuk mengenakan kemanusiaan baru yang kristis. Suara yang berseru di padang gurun sudah mengkonklusikan tugas panggilannya untuk mengundang semua orang kembali ke jalan Allah, tinggal saja keputusan dari masing-masing pribadi. Segalah jenis kejahatan kiranya terpenjara bersama Yohanes, sang suara Allah yang terkurban.
“Corong” di mana keluar suara Allah yang memanggil umatnya memang sudah ditutup tetapi gema kasih Tuhan tak pernah berakhir, sebaliknya bergaung bertalu-talu dan gemanya pun terus bersahut-sahutan dari masa ke masa ke seluruh penjuru, dari generasi ke generasi. Karena itulah alasannya mengapa Yesus, pada mengawali pewartaannya mengulangi isi seruan dari Yohanes untuk mengisyaratkan masa baru berahkmat: “Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Ubalah cara hidupmu dan percayalah kepada Injil” (ay. 15).
Seruan Yohanes yang diperkuat oleh Yesus itu kini menggema di dalam nurani kekristenan kita, mengalir membasahi jiwa bersama air permandian yang mengundang untuk berubah sikap mental dan tindakkan-tindakkan dalam kehidupan berelasi dan interaksi: membangun perdamaian lewat perbuatan-perbuatan damai, menyebarkan keadilan dan hak asasi melalui tindakkan tindakkan konkret yang adil dan jujur. Saatnya untuk menghilangkan mentalitas kepemimpinan yang tirani, kolonialis lagi feodalis (dari atas dan sentralis) untuk dapat memulai membangun cara hidup koordinatif yang berpartisipatif dan dialogal dalam iklim yang sungguh persaudaraan. Mampukah kita untuk melakukannya? Itulah tantangan konkret kita sebagai umat manusia ciptaan Allah pada umumnya dan sebagai murid-murid Kristus para khususnya, serta lebih khusus lagi, bagi kita kaum religius yang gemar berbicara tentang persaudaraan lagi biasa berapi-api mengkhotbakan umat akan keadilan, kejujuran, hak asasi, otonomi, dialog dan kebebasan. Bagaimana dengan prakteknya dalam kehidupan di dalam gereja dan kongregasi?????
_______&&&________ Belo Horizonte, Brasil, 25/02-2012
Fr. Lukas Betekeneng,cmm.
Nenhum comentário:
Postar um comentário