sexta-feira, 25 de novembro de 2011

BERSIAP SIAGALAH SENANTIASA UNTUK MENYAMBUT DIA YANG SEDANG DATANG KEPADAMU

Refleksi untuk hari minggu 1º masa Adven, 27/11-2011
(Yes 63,16-17.19; 64,2-7; 1Kor 1,3-9; Mc 13,33-37)
S

etelah kita merayakan pesta Kristus Raja, pada minggu yang lalu, yang adalah merupakan penutupan dari masa biasa dalam kalender liturgi gereja, sekarang kita membuka masa Natal, dimana diawali dengan masa Adven. Masa Adven adalah merupakan masa persiapan untuk menyongsong tibanya hari natalis dari Yesus Kristus yang disebut sebagai “Emanuel” yang artinya Tuhan ada bersama kita. Persiapan itu meliputi pembaharuan diri baik secara lahir dan terlebih secara batin, membuat evaluasi-evaluasi diri dan kehidupan serta menentukan sikap untuk melangkah ke arah Dia yang yang sedang datang menemui hidup  kita dengan ruang hati dan jiwa yang penuh kasih persaudaraan, kedamaian, persatuan, kejujuran, keadilan, toleransi serta kebebasan yang bertanggungjawab.
Kata adven itu sendiri berasal dari bahasa latin: adventus, dari kata kerja advenire, yang secara harafianya artinya tiba atau, kedatangan (datang). Semua umat kristen, dalam masa adven ini, mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus yang diimani sebagai penjelmaan Allah sendiri dalam rupa manusia dan lahir di dunia melalui Maria dan hidup di antara kita. Selama masa adven dilambangi oleh empat batang lilin, tiga yang berwarna ungu dan satu berwarna ungu kejambu-jambuan (keempar batang lilin itu selalu dinyalahkan – setiap batang – pada setiap minggu). Pada hari raya Natal (malam natal dan Natal), dipasang lilin Natal yang berwarna putih. Warna ungu dari lilin yang dinyalahkan selama masa adven melambangkan situasi permenungan batin yang dalam, masa pergelutan dengan diri sendiri, usaha untuk membaharui diri di hadapan Tuhan dan sesama. Tetapi pembaharuan diri itu sendiri seharusnya dilakukan pada setiap hari dan bukan hanya pada hari-hari pesta atau hari minggu saja. Setiap hari kita seyogianya berusaha untuk semakin menjadi manusia yang berbudi luhur, yang semakin menjadi manusia yang beradab dan penuh kasih. Kelahiran Tuhan dalam bentuk manusia justru untuk mengajarkan kita bagaimana seharusnya hidup sebagai manusia yang sungguh dan yang memanusiakan diri kita serta sesama. Seperti apa yang dikatan oleh seorang teolog Brasil, Leonardo Boff, “Di mana semakin nampak kemanusiaan dalam hidup keseharian kita, di sana semakin nyata terasa keilahian dari kepribadian kita”. Itu artinya bahwa bila kita semakin hari semakin menjadi manusia, maka dalam kemanusiaan kita yang dalam itulah ditemukan kealahan dari Tuhan dalam diri kita sebagai manusia-gambar-dan-rupa. Ada dua makana dari adven bagi hidup kita: pertama, merupakan persiapan untuk merayakan kedatangan Allah di dunia dalam rupa manusia lemah, untuk semua umat manusia;  dan yang kedua, merupakan persiapan untuk menyambut kedatang Allah yang kedua untuk menjemput kita kembali ke pangkuan kasihnya. 
Sebagai “manusia pelupa” dan terkadang tidak peduli dengan realita kehidupan kita sendiri, dengan tindakkan-tindakkan yang sering menodai dan menyakiti hati Allah melalui sesama, baik itu dalam hubungan hidup kita dalam keluarga antara isteri-suami-anak, dalam kehidupan bertetangga maupun dalam lingkup kerja. Setiap saat kita dipanggil Allah untuk bangun dari ketertiduran kita untuk selalu berjaga-jaga, selalu waspada, selalu dalam keadaan siap siaga. Kesiapsediaan kita dimaksudkan untuk dua arti dari persiapan perayaan Natal di atas. Kita sendiri tidak tahu kapan harinya Allah tiba dalam hidup kita, untuk itu makanya kita senantiasa bersiap sedia pada setiap hari (Mrk 13,33). Supaya tidak dikejutkan dengan kedatangan hari Allah yang secara Tiba-tiba maka hendaklah selalu siap sedia dalam kegembiraan dan harapan, kejujuran dan perdamaian, keadialan serta persatuan, cinta dan pengampunan.
Untuk dapat mencapai tingkat kehidupan yang demikian ini, amatlah dibutuhkan suatu sikap dan semangat kerendahan hati yang tinggi untuk mampu memeriksa batin serta mengoreksi diri sendiri dimana dalam kehidupan dan tindakkan mau pun dalam pikiran serta perkataan-perkataan kita, yang secara sadar atau pun tidak sadar, telah dapat membuat kita hidup semakin menjauh dari Allah dan sesama. Denagn semangat kerendahan hati semacam itulah membuat kita layak untuk berseru:”Datanglah untuk menolong mereka-mereka yang hidup dalam kebenaran, dan dengan suasana hati penuh kegembiaraan terus berjalan di dalam jalan perintahmu” (cf. Yes 64,4). Sikap dan tindakkan ini adalah merupakan sinyal dari pribadi-pribadi manusia ynag dewasa lagi bijaksana, yang berbudi luhur lagi tulus, yang berjiwa agung lagi terhormat.
Semua itu kita lakukan karena sadar lagi percaya sungguh bahwa Allah, pada setiap saat, selalu memanggil kita semua umat manusia untuk masuk mengambil bahagian dalam perjamuan kristis bersama Yesus dari Nazaret, Emanuel yang menjadi Kristus-Saudara kita yang berbelaskasih (cf. 1Kor 1,3-9). Dengan itu Allah mau menunjukkan kepada kita semua betapa kesetiaan kasihnya yang tak terbatas. Maka itu Dia ingin agar kita senantiasa bersatu dalam perjamuan kebahagiaan kasih dan kedamaian, baik kini, dan di sini, mau pun kelak, pada saat tibanya hari Allah untuk menjemput kita.
Kiranya kita senantiasa berjaga-jaga secara aktif sambil berbuat baik dalam hidup doa dan karya, karena kita sesungguhnya tak tahu kapan datang “hari Tuhan” kita masing-masing. Jadilah dirimu manusia yang beriman secara bijak lagi dewasa, di hadapan Allah dan sesama. Semoga rakmad Advem membantu kita semua dalam usaha mempersiapkan diri untuk menyongsong hari Natal dari Yesus saudara kita yang berbelaskasih.
Selamat menjalankan Adven di bawah terang kasih karunia Allah kita.
_______&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 27/11-2011.
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

sábado, 19 de novembro de 2011

DARI YESUS HISTORIS DAN KRISTUS IMAN KE RAJA ALAM SEMESTA

Refleksi dari Injil untuk hari minggu, 20-11/2011
(Mt 25,31-46)
A

tribut “raja” yang diberikan kepada Yesus dari Nazaret adalah lebih menjurus ke arah politik dari pada teologis, atau dengan kata lain, adalah merupakan teologi politik dari gereja kristen. Akar pemikiran teologi politik ini didasarkan pada “Teologi Perjanjian” bangsa Israel sejak mereka melarikan diri keluar dari kerajaan Mesir. Jenis pemikiran teologis ini baru terealisasi dalam hidup umat Yahudi dimana bangsa Israel mencapai puncak keemasannya dalam situasi politik dan cultur/budaya serta agamanya pada masa kejayaan raja Daud (cf. 2 Sam 7). Hal itu dapat dibaca dalam Mazmur  2; 20; 21; 45; 72; 89; 101; 110 yang mana semua Mazmur itu ditujukkan untuk memperagungkan kejayaan dari raja Daud[1]. Term teologis yang mempunyai ekivalensi dengan kata “reja” ialah mesias (dari kata ibrani: mashyah = yang diurapi). Kata itu akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa yunani menjadi Khristos, yang kemudian ke latin, Christus yang artinya pembebas, dan dalam bahasa indonésia kita yang baik desebut Kristus. Pada beberapa kutipan teks, term mesianisme memiliki arti yang masih tidak terlalu jelas, itu artinya, bervariasi, misalnya, Hab 3,13 perlu dimengerti bahwa kata ini ditujukan kepada para pemimpin bangsa, sementara Mzm 105,15 dan 1Taw 16,22 untuk para patriarki dan atau para nabi.
Dengan wafatnya raja Daud dan setela bangsa Israel jatuh secara beruntun ke tangan penjajah, kata “raja” menjadi suatu kerinduan akan masa lalu yang penuh kenangan sekaligus suatu harapan akan hari esok yang lebih baik atau paling tidak sama seperti saat kejayaan raja Daud. Situasi yang melankolis itu memenuhi benak seluruh masyarakat Israel yang merindukan suatu penyelamat baru yang, kalau dapat, dari keturunan Daud untuk bisa membebaskan Israel dari cengkeraman raja Roma. Ada yang mengharapkan seorang utusan, bukan dari keturunan Daud, tetapi langsung dari Allah sendiri. Sementara yang lainnya, mengharapkan utusan penhyelamat kiranya dari kalangan para nabi dan atau para hakim.
Satu hal perlu diketahui bahwa penafsiran dari perikop ini masih terus didiskusikan oleh para ahli Kitab Suci untuk mencari satu cara tafsiran yang lebih baik dan sesuai, paling tidak bisa dikurangi segi pandangan yang terlalu menjurus ke arah politis dan juritisnya yang terlalu kemanusiaan, yang pada hakikatnya tidak ada korespondensinya dengan ilmu ketuhanan yang sehat. Lepas dari semua diskusi yang sudah, yang sedang dan akan terjadi, yang menjadi lebih penting bagi kita saat ini ialah mencari makna pesan dari penginjil yang hendak disampaikan kepada kita untuk dihidupi.
Teks mendramatisasikan suatu situasi pengadilan terakhir. Pada bahagian pertama, sidang perngadilan dibuka dengan pidato dari hakim agung. Ia hadir dengan segala kemegahan sebagai seorang hakim penuntut dengan julukkan “Anak Manusia”  yang dikutip dari kitab wahyu nabi Daniel (7,13-14) dan dampingi oleh bala malaikat (bala tentara surga) yang mengelilingi takta pengadilan.
Pada bahagian kedua, dipertunjukkan situasi dimana semua umat manusia beriring masuk ke dalam ruang pengadilan untuk mendengarkan gugatan hakim serta keputusan hukuman yang akan diberikan kepada masing-masing terdakwa. Pengadilan terakhir ini bersifat universal, itu artinya, untuk semua umat manusia di muka bumi dan dari segala generasi, tanpa kecuali.
Pada babak berikutnya, dipertunjukkan hakim mulai memisahkan para dakwaan menjadi dua kelompok, sebelum teks dakwaan dibacakan; yang akan mendapat ganjaran penyelamatan ditempatkan di sebelah kanan dan yang mendapatkan hukuman di sebelah kiri hakim. Setelah itu dimulai bacaan teks gugatan hukum baik itu untuk mereka yang akan diselamatkan maupun untuk yang akan dihukum. Gugtan itu terdiri dari enam poin, yang semuanya itu merupakan kebutuhan dasar hidup sehari-hari: kelaparan, kehausan, keterasingan, ketelanjangan, kesakitan dan keterpenjaraan hidup.
Alasan dari tuntutan hukuman dan penyelamatan adalah sangat sederhana: apa yang dilakukan dan yang tidak dilakukan dari masing-masing orang bagi sesamanya selama ia hidup di dunia ini. Terjadi protes dari kedua belah pihak karena mendengarkan hakim penuntut menggunakan orang pertama “aku” sebagai alasan dari tindakkan kepedulian dan/atau ketidakpedulian selama hidup dari para terdakwa di dunia: “pada saat aku lapar, kamu memberikan (atau, tidak memberikan) aku makan dan haus kamu memberikan (atau, tidak memberikan) aku minum; sebagai orang asing, kamu memberikan (atau, tidak memberikan) aku penginapan; memberikan (atau, tidak memberikan) pakaian ketika aku talanjang; pada saat aku sakit, kamu merawat (atau, tidak merawat) aku serta mengunjungi (atau, tiak mengunjungi) aku ketika aku dalam penjara (vv. 35-36 dan 42-43)
Mendengarkan itu, para terdakwa bertanya, kapan dan di mana semua itu kami lakukan dan/atau tidak lakukan terdapmu? Karena kami tak pernah melihatmu dalam semua situasi seperti yang dipaparkan tadi maka coba jelaskan bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan jawaban hakim lebih sederhana lagi: “semua yang kamu lakukan atau tidak kamu lakukan terhadap salah seorang yang paling kecil dari saudara-saudara-ku, kamu melakukan atau tidak melakukannya kepadaku” (vv. 40. 45). Semuanya ini – apa yang baik yang dilakukan atau pun tidak dilakukan bagi sesama selama hidup – merupakan kekhasan dari orang yang hidup berjaga-jaga secara aktif sambil menantikan datangnya hari Tuhan. Kita dipanggil dan diutus untuk hidup berjaga-jaga sambil berbuat baik bagi sesama, sebagai tanda syukur kita kepada Pencipta, sebagai cara kita merevelasikan kepada dunia, wajah Tuhan yang penuh kasih nan kemurahan, yang solider serta keprihatinan, yang penuh kedamaian lagi kelemahlembutan. Semuanya itu adalah investasi cinta penyelamatan hidup.
Yesus dari Nazaret yang selama hidupnya berjalan mengelilingi daerah-daerah sambil berbuat baik (cf. Kis 10,38) sebagai ungkapan rasa cinta dan keprihatinannya terhadap sesama, bahkan karena cintanya itulah Ia sampai menyerahkan hidupnya sendiri bagi dunia dan sekaligus untuk mengajak kita Agar melakukan hal yang sama (cf. Yoh 15,12-13). Perbuatan-perbuatannya yang terpuji dan yang menyelamatkan hidup inilah yang membuat para muridnya menamakan dia dengan gelar Kristus yang luhur dari Surga. Jelas bahwa manusia kristen dapat dilihat lewat praktek hukum hidup keagamaan yang digariskan oleh Gereja dari semua umat baptis. Tetapi manusia kristis dapat ditemuakan dalam diri mereka-mereka yang sadar akan nilai cinta kemanusiaan yang ditunjukan lewat praktek hidup yang menyelamatkan tanpa memandang siapa orangnya serta apa iman keagamaannya atau pun asal kebangsaan lagi suku budayanya. Semua kita, di hadapan Tuhan adalah satu dan sama, sebagai saudara dari satu Pencipta Ilahi. Karena kesamaan itulah sekaligus membuat kita berbeda kepribadian dalam cara pandang dan kerja, yang semuanya ini perlu mendapat perhatian Dan dihargakan sebagai nilai yang memperkaya kehidupan relasional dalam sosietas yang semakin plural lagi global.
Lalu mengapa ide raja itu dipasang pada Yesus sementara dia sendiri tidak pernah menjadi raja, juga tidak pernah meraja dalam suatu wilayah manapun? Memang hal ini sungguh aneh, tapi nyata! Aneh karena tidak sesuai dengan pesan Injil kehidupan. Yesus sendiri tidak mengakui gelar itu ketika ditanya, apakah engkau adalah raja dan ia menjawab, kamu yang mengatakan (cf. 27,11). Tetapi nyata karena ide itu diterima dan dihidupi oleh semua kita seolah-olah fakta dalam sejarah hidup yesus sebagai raja. Baiklah kita pahami titel raja ini dari segi positipnya. Gelar raja yang dipasang pada Yesus dari Nazaret, yang adalah merupakan hamba kesetiaan Tuhan yang mati terbunuh secara keji di kayu salib, bukan dimaksudkan seperti raja dari kerajaan-kerajaan yang ada di muka bumi ini (cf. Yoh 18,36), yang mempraktekkan segala jenis kejahatan dan otoritarisme kepemimpinan. Dia adalah raja dalam kaitan dengan kasih sayang, kebaikkan, keadilan, pengampunan, perdamaian, belaskasih, toleransi, pemahaman akan perbedaan, pembelaan terhadap hak asasi manusia, dan lain-lainnya. Inilah maksudnya Yesus diberikan gelar raja. Dia adalah raja cinta yang mencita tanpa batas.
Kiranya kita semua pun mampu mencinta sesama kita, mulai dari dalam keluarga dan komunitas kehidupan kita masing-masing, di dalam lingkup kerja, dalam masyarakat sosial dan di mana pun kita berada, kiranya dipenuhi oleh rasa cinta tak terbatas. Dengan demikian cinta kristis akan meraja dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Alah yang terkasih dan sebagai pengikut kristus yang bijak lagi setia.
_________&&&_______ Belo Horizonte, Brasil, 18/11-2011
Fr. Lukas Betekeneng, CMM



[1] Menurut arkeolog amerika, Edwin Thiele,  raja Daud diperkirakan lahir sekitar tahun 1040 s.M dan wafat sekitar tahun 970 s.M. Sesuai Kitab Suci bahasa ibrani, Daud adalah raja kedua dari bangsa Israel unifikasi (Israel, Samaria dan Yudea).

sexta-feira, 11 de novembro de 2011

BERJAGA-JAGA DALAM HIDUP DAN KARYA: CIRI KHAS DARI SEMANGAT HIDUP KRISTEN

(Ams 31,10-13.19-20.30-31; 1Tes 5,1-6; Mat 25,14-30)
D
Refleksi untuk hari minggu, 13/11-2011
alam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Amsal, dilukiskan tentang tipe dari wanita yang bijak lagi setia sebagai lambang keindahan jiwa, simbol dari kecantikan asli batinia, harapan hati setiap insan, merupakan tanda kebahagiaan dalam hidup bersama. Inilah wanita idaman yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan di pasaran alam kasih. Sikap yang bijaksana dan setia, dalam kehidupan pribadi dan bersama, adalah cara hidup berjaga-jaga untuk menghindari musibah yang dapat mengancam dan bahkan bisa menghancurkan impian hidup yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, harmoni, penuh kasih-sayang serta kelemah-lembutan jiwa dan saling menghargai serta saling perngertian dalam hidup relasional, baik itu dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan menggereja dan mendunia.
Baik wanita maupun pria zaman kini lebih berlomba dalam pendewaan terhadap kecantikkan tubuh jasmani (materil) dari pada tubuh rohani.(spirituil). Ini dapat dilihat lewat banyaknya salon-salon kecantikan yang bertebaran dimana-mana dan operasi – operasi plastik yang direalisasikan di rumah-rumah sakit di berbagai kota, juga gedung gedung ginastik yang terdapat di setiap tikungan jalan maupun bahan-bahan kosmetik dari seribu satu merek yang memadati toko-toko dan kios-kios tatarias.
Merawat kecantikan dan kesehatan tubuh jasmani bukanlah hal yang najis atau salah; masalahnya terletak dalam penyelahguaan dari kecantikan dan kesehatan tubuh itu sendiri. Orang bijak menghargai nilai dari kecantikan tetapi tidak mendewakannya seolah yang paling penting dalan hidup ini. Tetapi juga dipihak lainnya, apa bila kecantikan dan kesehatan tubuh jasmani itu tidak dijaga, adalah suatu isyarat ketidakpedulian terhadap rahkmad ciptaan Allah yang telah dipercayakan untuk dimanfaatkan demi hidup di dunia. Bacaan pertama sebenarnya mau bernabi kepada kita semua untuk menjaga keseimbangan hidup antara apa yang menjadi keinginan psikis dan apa yang menjadi kebutuhan roh. Seperti pepata latin mengatakan: “men sano in corpore sano” (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa atau mentalitas yang sehat). Tubuh jasmani kita adalah kenisah Roh Allah di dunia.
Sementara itu dalam bacaan kedua, rasul Paulus, lewat suratnya kepada umat Kristen de Tesalonika, mengingatkan kita tentang pentingnya hidup berjaga-jaga sebagai kekhasan hidup Kristen, di dalam Gereja dan dunia. Semangat hidup semacam ini adalah sebagai cara pencegahan terhadap bahaya pada saat datangnya hari Tuhan yang tak terduga dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita diajak olehnya untuk hidup sebagai anak-anak terang yang senantiasa berjaga-jaga secara aktif, pada setiap waktu dan tempat, untuk dapat menyambut saat tibanya hari Allah, karena tidak seorangpun tahu kapan dan apa tanda-tanda sebelum ketibaannya, di mana tempat tibanya serta bagaimana cara atau dengan “instrument” mana yang menghantarkannya pada saat ketibaannya itu. Rasul mendefinisikan saat kadatangan hari Tuhan seperti pencuri pada malam hari (cf. ay. 2).
Pada bacaan Injil, muncul suatu pertanyaan mendasar yang perlu mendapat perhatian khusus: Apa yang membuat hamba kepercayaan yang ketiga menyimpan barang tuannya? Apakah karena kemalasannya, seperti dikatakan oleh teks, atau hal lain yang membuatnya tidak mempunyai kemauan untuk mengembangkan harta yang diberikan? Orang manakah yang mentalitasnya mau diibaratkan dengan hamba kepercayaan yang ketiga ini? Mengapa tuan barang itu tidak memberikan kwantitas barangnya yang sama kepada ketiga hamba kepercayaan untuk dikembangkan? Mengapa kepercayaannya itu hanya diberikan kepada tiga orang dan bukan kepada lebih banyak orang?
Baiklah diingat selalu bahwa tantangan yang paling besar yang dihadapi oleh Mateus adalah dari dalam komunitasnya sendiri: kelompok garis keras dari faham yudaisme. Penginjil Mateus dalam Injilnya menggariskan kepada kita tentang semangat hidup kristen yang berjaga-jaga dengan cara mengembangkan kreatifitas atau bakat yang telah diberikan Tuhan pada saat awal penciptaan kita. Kita umat manusia ditempatkan oleh Allah di rumah transit existencial (dunia) ini dengan sudah dilengkapi bekal secukupnya untuk hidup: segumpal otak untuk berpikir, sebuah hati untuk merasa dan sepasang ginjal untuk membangunkan kemauan yang tinggi demi pengembangan diri. Inilah tiga pusat mesin penggerak yang diberikan Allah kepada manusia untuk digunakan secara kreatif dan bertanggungjawab demi kebahagiaan.
Mengenai simbolisme. Seperti diketahui bahwa Injil Mateus adalah lebih eklesial maka karakter teksnyapun nampak cukup tradisionalis (loyal pada tradisi). Teks dari Mateus adalah merupakan sebua ceritera-parabol tentang bakat, atau talenta yang pada hakikatnya melukiskan situasi pada penghakiman terakhir (ay. 19-30).Tiga hamba yang mendapatkan kepercayaan dari tuannya untuk bertanggungjawab dalam mengembangkan bakat dan kreatifitasnya, adalah simbol dari tiga patriarki: Abraham, Isaac dan Yakub. Kehidupan iman mereka adalah merupakan contoh dari hamba kesetiaan Allah bagi bangsa Israel. Dari ketiga patriarki inilah, sesuai iman Israel, menjadi asal mula dari “kesulungan” umat Hibrani (kaum perasingan) sabagai satu bangsa “pilihan” dalam ekonomi dari revelasi rahasia cinta Tuhan yang membebaskan dan menyelamatkan (three in one). Sementara lima talenta yang diberikan kepada hamba pertama, melambangkan kelima gulungan Kitab Hukum Musa. Dalam Kitib-Kitab inilah diceriterakan secara panjang lebar mengenai hubungan timbal-balik antara para patriarki dengan Allah yang mereka imani serta janji-janji berkat ilahi yang akan dilimpahkan dalam hidup mereka sendiri dan bagi semua keturunannya. Sementara dua talenta lainnya yang diberikan kepada hamba yang kedua, melambangkan dua loh batu dimana terlukis kesepuluh perintah Allah. Dan akhirnya satu talenta yang diperuntukkan kepada hamba yang ketiga, melambangkan iman akan keunisitasan (atau, ketunggalan)Tuhan dari bangsa yahudi. Tuhan bangsa Israel adalah satu lagi unik, dan di luar Tuhan tak ada Allah. Begitulah pengakuan iman bangsa akan keunisitasan Tuhan: Tuhan kita adalah Allah yang satu dan unik.
Kelompok yang menjaga kekayaan iman akan revelasi kudus Allah ini adalah kaum farisi, saduki, levi dan ahli-ahli taurat. Dari kelompok mereka inilah yang seharusnya menjadi pola panutan hidup kasih dari ketiga “bapa iman” dari pada masyarakat kecil dan kaum “kafir”. Mereka pulalah yang harus memberi contoh untuk menggalang persatuan dan kesatuan hidup intern dan extern. Namun kenyataannya hal ini menjadi terbalik, masyarakat kecil dan kaum “kafir” yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar secara lebih mendalam dan mendetail akan ajaran-ajaran nabi Musa, sejarah patriarki dan hukum-hukum Allah, justru merekalah yang menjadi pertama mengenal dan mengakui kehadiran Tuhan dalam diri Yesus Kristus serta menerima ajaran-ajarannya dan mempraktekannya dalam hidup keseharian mereka secara kreatif; sementara itu kaum farisi, kaum levi, ahli-ahli taurat dan golongan saduki justru menolak Yesus dan menutup diri dalam tradisionalisme yang steril, keram lagi kering.
Dengan demikian sudah menjadi jelas bagi kita bahwa mentalitas kemalasan dari orang-orang yang diibaratkan oleh Yesus dari Mateus dalam perumpamaan talenta di atas adalah ditujukan kepada kaum yahudi dari golongan fundamentalisme dan tradisionalisme yang steril lagi keram, statis, tidak memiliki mobolitas, tidak produktif, karena itu secara praktisnya boleh dikatakan mati kreatifitas intelektualnya, baik itu politik, teologis maupun psikoemosional dan spiritual serta gairah untuk hidup dan berkembang secara lebih baik, lebih manusiawi, lebih adil, jujur, setia, bijaksana serta bertanggungjawab. Sementara keadaan hamba pertama dan kedua, menurut penginjil, adalah mereka-mereka yang mengakui Yesus sebagai utusan Allah dan menerima pewartaannya serta dikembangkan secara kreatif agar rahkmad Allah menjadi berkelimpahan bagi hidup setiap umat beriman: masyarakat kecil dan kaum “kafir”. Kesetiaan, sesuai penginjil, adalah diukur dari segi kedewasaan dan kebebasan yang kreatif serta bertanggungjawab seperti hamba yang pertama dan kedua dan bukan seperti mentalitas steril, keram lagi kering dan yang tidak berproduktif seperti hamba yang ketiga. Situasi ini juga merupakan suatu tantangan konkrit bagi kita umat kristiani saat ini. Sebagai orang kristen, kita perlu bertanya selalu pada diri kita masing-masing: macam manakah watak atau mentalitas kita, seperti hamba yang pertama dan kedua atau seperti yang ketiga? Tidak jarang di dalam gereja dan komunitas-komunitas religius atau kongregasi-kongregasi kita, dalam keluarga dan masyarakat desa terdapat orang-orang yang jatuh ke dalam fanatisme dan tradisionalisme yang steril, keram lagi dingin, kering dan tak bercahaya, tidak ada keberanian (kemauan yang keras), kepercayaan diri serta kedewasaan untuk berkreatifitas dan, karena itulah, akhirnya mati. Tidak ada manfaatnya sedikitpun hidup yang mengikuti secara buta suatu tradisi demi tradisi dan hukum demi hukum. Justru golongan tradisionalisme inilah menjadi penghalang bagi pertumbuhan hidup yang dewasa dan kreatif, baik dalam gereja, dalam kongregasi religius, maupun dalam keluarga dan dalam masyarakat politik. Salah satu pengkhianatan yang paling jahat dan keji adalah seperti yang diibaratkan oleh mentalitas hamba yang ketiga dalam perumpamaan di atas.
Hendaknya kita senantiasa berjaga-jaga setiap saat dan di mana saja berada sambil mengembangkan kreatifitas hidup dengan penuh percaya diri, bebas, dewasa serta bertanggungjawab selama menunggu datangnya “hari Tuhan” kita masing-masing. Waspadalah, agar “hari Tuhanmu” jangan sampai tiba seperti pencuri di malam hari. Jadikanlah dirimu sebagai pribadi kristen yang beriman secara dewasa, kritis, kreatif, bebas dan bertanggungjawab.
___________&&&__________
Fr. Lukas Betekeneng, CMM

quinta-feira, 10 de novembro de 2011

PETUAH MORAL TEOLOGIS-ADAT – 2

UNTUK KEPALA DAN WAKIL DAERAH KABUPATEN LEMBATA
MASA KERJA 2011 - 2016

Ana suku mukin, bai bale norok,
Ari, mei papak, reu, worak lola,
Opo, motin tou, lake, maun ehak
Kopong lewo nudhan, mamung tana kenahin,

Pana sare, tula teka...,  gawe mela, luga tuba...

Lewo-tana huda-gaha, riang-wetan adok-gahing
Ola dike lekat sare, tula tueng luga balik susa suku lepanbatan
Lera-wulan tokun-tude, Tana-ekan prawi-pradok
Puring muren behing bener, gelu ulang gaweng gehak paya lango lomblein

Niku getang tulung gole hama kakan dano arin
Pana teden odun dorat helo opun dano binen
Tobo talin pae gelak main bai dano lake
Koda keru marin baki, kirin wai dano selan

koda tepo ake bolak…, kirin lhengen ake geto...

Peten belek sudi belolo, peten ake mo gelhupan sudi ake mo gelhulin
Turu rehman peten dike, tobo leron sudi sare
Peten koda Kayo-puken, sudi kirin Wai-matan
Nenaw ama pulo kake, naot bine lema kae

Ola ake mabe pile, lekat ake mabe lalan
Niku ake lepet matam, dengen ake gulek tilum
Tutu dike marin sare, tula ulin luga rekan
Tutu ake puhung koda, marin ake pogel kirin

Goon ake mabe hipa..., menu ake mabe horong...

Koda Tuan lera-wulan, helo kung, hulu laran
Tao sare koteng onen, Petan ake mo gelhupang
Kirin Ala tana-ekan, hama padu, noning ewa
Neka mela naim tukan, sudi ake mo gelhulin

Nuba suku liman ola, nara lango lein lekat
Kopong lewo-tana tilun, mamung riang-wetan matan
Niku tedon kode dike, dengan dore kirin sare
Mayang dahan-geter maring, Gute-sorong hode-nein

 Gute ake mabe hewul…, hode ake mabe gewong…

Ola ake mabe helang, lekat ake mabe gawe
Puring ake mabe pile, behing ake mabe lalan
Niku-tulun pao-boe nuba pulo lepanbatan
Sudi-sadan puli-paal nara lema lomblein

Pana sare tula teka..., gawe mela luga tuba
Koda tepo ake bolak..., kiring lhengan ake geto...
Goon ake mabe hipa…, menu ake mabe horon…
Gute ake mabe hewul…, hode ake mabe gewong…


 Tutu ake puhung koda…, maring ake pogel kiring…

Koda Tuan lera-wulan, nenaw Kayo-puken pito
Kirin Ala tana-ekan, naot Wai-matan lema
Helo kung, hulu laran, hama padu, noning ewa
Tao sare koteng onen, neka mela naim tukan.


________&&&_________
Fr. Lukas Betekeneng, CMM.

domingo, 6 de novembro de 2011

PROKLAMASI TENTANG KEBAHAGIAAN

Refleksi dari Injil untuk hari mingu, 06/11-2011
(Mat 5,1-12)
D

ari mana sebenarnya Jesus dari Mateus mengambil inspirasi untuk memproklamirkan kebahagaan bagi mereka yang kecil dan tertindas, yang lapar dan haus, yang miskin dan bersedih di dalam komunitas-Gerejanya? Apakah “kerajaan” persaudaraan masa depan, dimana Allah yang esah itu akan menjadi segalanya dalam semua (1Kor 15,28), disiapkan khusus untuk mereka-mereka yang di atas ini? Siapa sebenarnya mereka – mereka yang disebut pauperis spiritu (latin) atau, ptóchoi tô pneumatic (yunani), atau dalam bahasa indonésia kita yang baik disebut roh kemiskinan? Siapa mereke itu yang disebut qui lugent (latin) atau, penthountes (yunani) atau, mereka yang sedang menjerit atau maratap kepedihan?
Jenis literatur dari ucapan kebahagiaan seperti ini bukanlah hal baru, artinya sudah cukup dikenal dalam tradisi Kitab Suci Perjanjian Lama, yakni terdapat dalam dua bentuk: ucapan berbahagia (karakter sapensial) dan ucapan selamat (karakter eskatologis). Sebagai contoh, dapat dibaca dalam Mzm 1,1-2., yang isinya demikian: “Berbahagialah orang yang tidak menurut nasihat orang jahat, dan tidak berdiri di jalan orang berdosa, tidak pula duduk bersama para pencemooh; tetapi yang kesukaannya adalah hukum Tuhan, dan siang dan malam merenungi perintah-perintah-Nya”. Jenis ini biasa digunanakan untuk menyalami umat-umat yang setia dalam memperhatikan hukum Tuhan. Hidup kesetiaan yang penuh dengan observasi, dipandang sebagai situasi yang mendatangkan kebahagiaan hidup. Sementara ucapan selamat yang bersifat eskatologis ditujukan kepada mereka-mereka yang akan diselamatkan oleh Tuhan pada saat intervensi penyelamatan-Nya pada momen akhir kehidupan. Sebagai contoh dari ucapan jenis ini, dapat dibaca dalam kitab nabi Daniel (Dan 12,12), yang isinya sebagai berikut: “Beruntunglah orang yang menanti-nanti samapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari”. Keselamatan masa depan, menurut nabi ini, adalah sepenuhnya merupakan janji Allah. Sampai saat ini para ahli Kitab Suci belum dapat menjelaskan arti dari angka figuratif 1335 yang digunakan oleh nabi.
Kebahagiaan bagi yang memiliki roh kemiskinan. Ada orang yang mengatakan bahwa kemiskinan sebagai suatu semangat hidup adalah merupaka tanda kebodohan dan kedunguan karena, menurut mereka, orang yang normal tidak akan melihat kemiskinan sebagi situasi yang dapat mendatangkan kebahagiaan, tubuh dan jiwa. Bila hidup penuh kemiskinan sebagai syarat menuju kebahagiaan maka Yesus sendiri tidak termasuk dalam kelompok ini, karena dia sendiri bukan miskin, kelompoknya memiliki kecukupan fasilitas yang diberikan oleh orang-orang untuk kebutuhan hidup, dia sendiri dan para murid-muridnya. Secara intelektualpun dia tidak tergolong miskin dalam kalangannya.
Maksud dari Yesus di sini tentunya bukan ini, tetapi semangat dari tidak keterikatan hati pada materi seolah jaminan yang pertama dan utama bagi suatu hidup yang penuh dengan kebahagiaan, kini dan akan datang. Artinya bahwa hati kita perlu dibebaskan dari belenggu ketamakkan akan mengumpulkan harta seolah dialah yang membuat kita bahagia. Tindakkan pembebasan diri dari rasa keterikatan hati pada harta kekayaan adalah merupakan kebijakkan iman yang dalam dan dewasa. Hanya orang yang bijak seperti inilah di dalam jiwanya terdapat rasa kebebasan dan kebahagiaan yang murni dan dalam.
Kebahagiaan bagi yang kini sedang dalam kesedihan. Apakah ada orang yang tengah dalam kesedihan yang begitu dalam, mampu untuk tertawa dengan begitu gelaknya dalam kebahagiaan? Bila ada, maka mungkin orang ini perlu dibawah segara ke rumah sakir jiwa untuk ditolong. Hal seperti ni memang merupakan jenis bahasa umum yang dipakai oleh setiap pembimbing spiritual yang sungguh bijak dan dewasa bahwa, memang perlu ada sesuatu dalam diri manusia yang harus mati sebelumnya agar bisa memungkinkan yang baru dapat lahir (cf. Yoh 12,24). Hidup dan mati, merupakan dua kutub yang meliputi seluruh hidup exixtensial kita. Derita dan tangis memang merupakan suatu bahagian pengalaman hidup yang pahit dari setiap kita, tetapi sekaligus situasi itu pula merupakan hal yang mendidik kejiwaan untuk kita dapat memahami dengan lebih dewasa dan dalam bahwa hidup di dunia ini adalah sementara. Kita memang perlu mengatasi kecenderungan keegoan dalam kaitannya dengan pengidolaan dari egositasi diri. Pengidolaan dari egositasi inilah yang membuat kita tak mampu menahan emosi diri bila mengalami sesuatu kehilangan dalam hidup.
Kegembiraan batin, yang adalah bahagian natural intern jiwa dan bukan hal kausal extern, segera akan kembali normal, dan dengan itu memungkinkan rasa senang dan bahagia dengan sendirinya bila hidup kita sudah terlepas dari belenggu idola egositas. Pemahaman itulah yang membuat Yesus percaya dan karena itualah makanya ia berkata: “Berbahagialah kamu yang kini menangis karena kamu akan dihibur” (ay.4). Memang perlu kesabaran dan perjuangan secara terus-menerus untuk dapat menguasai diri dari segala kecenderungannya yang tidak membantu kita untuk tumbuh secara sehat dan dewasa.
Kebahagiaan bagi yang lembut hati. Pada zamannya Isaac Newton (1643-1727) sistim planet bumi kita ini dipahami sebagai suatu “monarki solar” (monarki matahari) atau bintang-bintang (antariksa). Menurut ilmuwan Inggeris ini, mataharilah yang memberikan perintah kepada planet-planet lainnya dan mereka hanya bisa taat dan menjalankannya sesuai apa yang diperintahkan. Artinya bahwa semua keberadaan dan hidup, semua dinamika dari planet-planet itu tergantung sepenuhnya dari matahari. Ini adalah merupakan “rezim kekuasaan dan ketaatan”. “Perintah, bagi mereka yang mempunyai kekuasaan, dan taat bagi mereka yang mempunyai kesadaran”; begitulah kata pepata lama. Adalah rezim sentralisasi kekuatan, monopoli kekuasaan. Matahari merupakan kekuatan mutlak, otoritas satu-satunya, raja diatas segala raja. Pandangan itu berpengaruh sampai pada refleksi teologis nan politik (terlebih sejak akhir abad ke XV dan XVI), sampai pada kehidupan keluarga serta praktek hidup keimanan dalam gereja dan dunia: rezim kehidupan monolgal dan paternalis, maskulinisme dan sentralisme. Tugas para pemimpin – dunia Dan ágama – diasosiasikan dengan matahari yang satu-satunya berkuasa untuk memerintah, menuntun dan mengambil keputusan. Tugas ini, di dalam keluarga dipercayakan kepada suami.
Pemahaman planet bumi yang monarkis dan mekanis yang berpusat pada satu-satunya kekuatan yang tersentralisasi pada matahari itu mulai mengalami krisis setelah Albert Einstein (1879-1955) mempublikasikan artikelnya yang ketiga pada tahun 1905, yang dikenal secara populer dengan nama: “Teori tentang Relativitas Terbatas”. Menurut Einstein, bukanlah matahari yang merupakan kekuatan satu-satunya dalam memberikan komando kepada planet-planet lainnya, melainkan setiap planet itu memiliki kekuatan grafitasi tersendiri, artinya sangat indenpenden sekaligus saling memberikan pengaruh satu sama lainnys (interdenpendensi).
Adalah merupakan momen penting dalam pergeseran pemahaman sistim kehidupan planet bumi dari monosentralsasi (monarki matahari) menjadi multisentralisasi (kosmokrasi = demokrasi kosmos). Pergeseran dari monokuasa atau monopotensial yang mekanis dan sentralisasi menjadi multipotensial yang organis dan desentralisasi. Dari pemahaman teknik “mesin solar” (dominasi dari tenaga matahari) menjadi konsep kehidupan kosmis universal interdependensi.
Seperti teori dari Newton mempengaruhi seluru cara hidup dan relasi yang sentralisasi dan mekanisasi, baik dalam politik, social, ágama dan keluarga, hal yang sama juga terjadi dengan pandangan ilmu dari Einstein, memberikan pengaruh langsung (kalau bukan satu-satunya, paling tidak memperkuat situasi pergeseran atau krisi yang sedang terjadi) dalam praktek kehidupan konkrit, baik itu di dunia politik dan sosial maupun dalam sistim kehidupan agama sampai pada pemahaman tentang relasi kehidupan keluarga. Contoh konkret mengenai hal itu seperti kita lihat dalam kehidupan keseharian kita: di dunia politik terjadi desentralisasi di mana-mana, demokrasi yang sehat dan adil mulai berbicara semakin keras di seluruh penjuru bumi, diawali dengan bubarnya unisoviet serta jatuhnya benteng pemisah di Berlin (Jerman), kecuali Amerika serikat yang masi mencoba untuk menunjukkan politik otoritarismenya di kanca dunia, kendati menara kembarnya sebagai lambang dominasi kekuasaan politik dan ekonomi sudah dirubuhkan.
Juga dalam sistim kehidupan beragama, mulai dari Konsili Vatikan II, terjadi perubahan yang drastis dalam pemahaman tentang Gereja, kecuali gereja Roma yang berusaha untuk mempertahankan sistim sentralisasi yang monarkis dan feudalnya. Dalam relasi kehidupan keluargapun berubah, kecuali suami yang tradisional yang berusaha untuk mempertahan statusnya sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga. Angin pembaharuan itu kini terus berhembus sampai, akhirnya di dunia politik Timur-Tengah dimana para pemimpin tirani pada berjatuhan. Dunia maskulin yang sentralis, otoriter, diskriminatif dan tirani, mulai dari keluarga, gereja, sosietas sampai pada dunia politik, semuanya sedang mengalami krisis identitas yang dalam. Umat baptis yang sederhana pada khusunya den semua orang beriman pada umunya, isteri dan anak, masyarakat kecil, khususnya kaum wanita yang selama ini hidup dalam belenggu otoritas dari tangan para pemimpin tirani dan suami-kolonialis, kini disapa oleh Yesus sabagai yang berbahagia, karena kendati menderita tetapi tidak putus asah, sebaliknya selalu sabar dan teguh dalam iman serta rendah hati dan terus percaya lagi setia; mereka inilah, menurut Yseus, yang akan mendapat hiburan dari Allah. Angin segar penghiburan pembebasan dan penyelamatan itu, kini terus berhembus ke seluruh penjuru, menggerakkan semua nadi kehidupan umat manusia, terlebih mereka yang kecil, tertindak dan yang menderita, dengan pelan tetapi pasti.
Kebahagiaan bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran. Bila kita menengok pada sejarah hidup kita mulai dari kehidupan keluarga, gereja dan agama sampai pada kehidupan politik, patutlah kita merasa malu. Berapa juta orang di dunia yang sudah mati demi kebenaran (hak asasi, keadilan dan kebebasan bersuara, beragama dan lain-lainnya). Baik dunia agama maupun politik sama-sama mempraktekkan kejahatan yang amat keji dengan mencabut nyawa orang-orang demi kepentingan kekuasaan egosentrismenya. Praktek kejahatan itu bahkan masih juga terasa sampai kini, di tengah milenium ke tiga. Inilah hal yang perlu dirafleksikan secara lebih dalam dan jujur, perlu didiskusikan bersama antara semua pihak tanpa kecuali, perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari semua pihak dan golongan.
Kebahagiaan bagi mereka yang murah hati. Egosentrisme kini semakin kuat terasa di mana-mana, bukan sejenis egoisme institusionalisasi tetapi egoisme terlepas dari institusi, tertutup, terisolasi. Kendati dengan dunia komunikasi yang semakin canggih tetapi di pihak lainnya kehidupan bersama yang sehat terasa semakin sulit, semakin terisolir, orang-orang nampaknya lebih tabah berteman dan berbicara dengan anjing atau hewan kesukaan lainnya dari pada dengan sesama manusia. Dalam cultur sibernetis saat ini, orang-orang berhubungan secara digitalis, telerelasi, telekonversasi, telekonvivensial, telemedis, teleafektivitas, pendeknya semuanya dilakukan lewat jarak jauh dan semuanya sangat abstrak, sesuatu dirasa seolah-olah ada dan sekaligus tidak ada, karena orang secara konkritnya tidak nampak. Semuanya dibuat dalam bayangan, imaginasi, ada kelihatan bayangan di depan mata di layar monitor tetapi sekaligus secara kenyataan tidak ada karena dengan teknologi supermoderen semuanya dapat dimanipulasi dengan amat mudah. Adalah suatu sosietas tanpa muka, tanpa nama, tanpa aroma. Tradisi gotongroyong yang merupakan cirikhas hidup social masyarakat kita sama sekali hilang. Ada pepata dulu yang mengatakan demikian: “ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang”. Hal itulah yang kini sedang kita hidupi. Manusia dilihat, bukan seperti ia adanya, tetapi ditinjau dari segi harta milik: dicinta karena harta milik, dijadikan teman berdasarkan harta milik, dibantu bila ada kesulitan karena harta milik. Dalam kehidupan bertetangga, terdapat dua rumah yang sama sekali kontras, yang satu penuh dengan kemewahan dan yang lain berupa gubuk reot tetapi itu tidak ada orang yang merasa tersentuh hatinya untuk mengulurkan tangan dan membantu; sebaliknya dianggap itu bukan masalahnya, orang-orang tidak lagi menghiraukan situasi hidup social sesamanya, bahkan mental-mental seperti itu kini terjadi sampai di desa-desa terpencil sekalipun. Seluruh nadi kehidupan social cultural kita sedang digerogoti secara perlahan oleh vírus invidualisme.
Kemurahan hati yang dipraktekkan oleh Yesus bukan hanya sekedar memberi roti dan anggur demi memuaskan lapar dan dahaga fisik, tetapi terlebih tenaga, waktu dan perhatian, bahkan menyerahkan sampai hidupnya sendiri bagi orang lain karena rasa cinta dan demi cintanya yang tanpa batas (Yoh 15,13). Inilah teladan hidup murah hati yang tak terbatas yang diajarkan oleh Yesus kepada kita karena rasa cinta akan sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Adalah merupakan suatu ujud cinta yang murni dan radikal yang patut diteladani. Contoh inilah seharusnya menyentuh hati kita semua serta mendorong semangat semua kita untuk diikuti. Inilah tantangan hidup kekristenan kita yang monumental.
Kebahagiaan bagi mereka yang murni hatinya. Pemilik kerajaan surga adalah mereka yang di dalam batinnya ada rasa bebas, bijak lagi dewasa, yang tahu dan mampu menentukan sikap untuk melepaskan diri secara spontan dari keterikatan batin pada harta duniawi agar dapat memberikan kemungnan untuk merangkul harta surgawi (memeluk cinta kasih Allah yang tak terbatas terhadap sesama manusia). Barang siapa yang murni hatinya, ia juga sederhana rohnya. Barang siapa yang mampu menguasai diri dan keluar dari kecenderungan egoisentrismenya, ia akan mampu pula untuk mengatasi gadaan-gadaan kemewahan duniawi. Inilah ciri-ciri orang yang murni hati, dewasa dan bijaksana.
Tanda-tanda lain bagi orang yang murni hatinya adalah orang yang jujur, setia, sederhana hati, adil, toleran, penuh pengertian, dialogal, tidak egois dan suka membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Kemurnian hati, dalam pemahaman injil selalu berhubungan pertama-tama dengan segala seusatu yang tidak sesuai dengan kriteria cinta kasih Tuhan, yang setia, adil, jujur dan bijaksana. Dan yang kedua, berkaitan dengan relasi afektivitas dalam relasi kehidupan keluarga dan sosial. Kita perlu bertanya diri: apakah saya ini cukup memiliki hati yang murni dalam hidup social, profesional, keluarga dan dalam kehidupan iman?
Kebahagiaan bagi mereka yang bekerja demi perdamaian. Animalisasi manusia memang tidak terlalu mengerti apa itu dan bagaimana hidup saling berdampingan dengan damai dan harmoni, saling menghargai hak dan kebebasan, saling membantu secara adil dan jujur tanpa pamrih. Keanimalisan kita hanya bisa tahu berperang demi status atau karena ketidakmampuan hidup bersama, baik itu perang panas di medan pertempurang, perang mulut dengan saling menuduh dan memfitnah maupun perang dingin dengan saling berlombah senjata dan saling mengancam untuk menghancurkan hidup satu sama lain.
Yesus dari Nazaret, Kristus-saudara berbelaskasih memberikan damainya kepada para rasul dan semua pengikutnya – kepada kita semua – tidak seperti yang diberikan oleh dunia, yang artifisial. Pada kenyataannya bahwa tak ada tempat satupun di dunia ini dimana masyarakatnya tidak mempunyai agama atau jenis penghayatan keiman lainnya, tetapi anehnya bahwa tindakan saling membenci dan membunuh atas nama ideologi politik dan terlebih agama sepertinya tak kunjung akhir. Bhagawad Gita berkata: “ego merupakan musuh yang paling keji bagi ke-aku-an diri, tetapi ke-aku-an diri adalah sahabat terakrab bagi ego”. Manusia egosentris tidak pernah mengalami damai yang sebenarnya. Sementara itu semua orang kristen dipanggil oleh Kristus untuk hidup dan bersaksi tenteng cinta dan damai. Bagaimana dalam kehidupan keluarga kita, apakah selalu diusahakan agar cinta dan kedamaian memenuhi hidup dan relasi keluarga? Bagaimana hidup antar agama, apakah ada saling menjaga dan menghargai, ada sikap toleransi? Apakah kita orang beriman sudah cukup mampu untuk keluar dari semangat animalis kita yang selalu cenderung pada permusuhan?
Kebahagiaan bagi mereka yang dianiaya karena kebenaran demi kerajaan Allah. Orang sering bertanya tentang apa itu kebenran. Untuk menjelaskannya secara teori tentang Hal itu memang sulit, sampai yesus sendiripun menjadi diam ketika ditanya oleh Pilatus. Cinta damai memang bukanlah masalah ortodoksal atau teori tanya-jawab tetapi menyangkut ortopraxis (praktek nyata) kehidupan. Apa sebenarnya maksud injil mengenai kebenaran atau benar dalam hal ini? Mungkin dapat dikatakan saja bahwa kebenaran adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kehendak kasih Allah. Kebenaran di bidang politik, misalnya, tentunya manyangkut hak asasi, keadilan, kejujuran, kedamaian, kebebasan, tanggungjawab politik publik demi kesejahteraan rakyat banyak, dll. Dalam bidang penghayatan iman dan spiritualitas keagamaan misalnya, tentunya berkaitan dengan perhatian terhadap kesamaan nilai dan arti dari Pencipta dan manusia ciptaan. Artinya bahwa penghayatan tradisional bahwa manusia itu adalah makluk yang tidak terlalu berguna bagi Allah karena penuh dengan dosa, tidak layak di hadapan Tuhan, tubuhnya adalah najis bagi jiwa, semuanya ini perlu dibaharui. Semuanya ini berlawanan sama sekali dengan pesan Injil. Kita memang perlu keluar dari faham dualisme untuk masuk ke konsep dualitas. Perlu keluar dari faham bahwa agama saya lebih benar dari yang lain untuk dapat masuk ke dalam konsep bahwa semua agama hanyalah instrumen untuk mengorientasikan hidup kita dengan nilai-nilai spiritualnya kepada Allah, Dan bila hal itu sungguh dihidupi secara manusiawi yang lebih sehat jujur, dewasa dan bertanggungjwab. Artinya bahwa tidak ada rasa saling membenci dan menghalangi dan atau mengganggu praktek-praktek kehidupan iman umat dari agama lainnya.
Semoga hidup kita semakin hari semakin dewasa dan bijaksana sesuai kehendak kasih Allah yang menyelamatkan.
__________&&&___________ Belo Horizonte, 06/11-2011
Fr. Lukas Betekeneng, cmm.