sexta-feira, 11 de novembro de 2011

BERJAGA-JAGA DALAM HIDUP DAN KARYA: CIRI KHAS DARI SEMANGAT HIDUP KRISTEN

(Ams 31,10-13.19-20.30-31; 1Tes 5,1-6; Mat 25,14-30)
D
Refleksi untuk hari minggu, 13/11-2011
alam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Amsal, dilukiskan tentang tipe dari wanita yang bijak lagi setia sebagai lambang keindahan jiwa, simbol dari kecantikan asli batinia, harapan hati setiap insan, merupakan tanda kebahagiaan dalam hidup bersama. Inilah wanita idaman yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan di pasaran alam kasih. Sikap yang bijaksana dan setia, dalam kehidupan pribadi dan bersama, adalah cara hidup berjaga-jaga untuk menghindari musibah yang dapat mengancam dan bahkan bisa menghancurkan impian hidup yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, harmoni, penuh kasih-sayang serta kelemah-lembutan jiwa dan saling menghargai serta saling perngertian dalam hidup relasional, baik itu dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun dalam kehidupan menggereja dan mendunia.
Baik wanita maupun pria zaman kini lebih berlomba dalam pendewaan terhadap kecantikkan tubuh jasmani (materil) dari pada tubuh rohani.(spirituil). Ini dapat dilihat lewat banyaknya salon-salon kecantikan yang bertebaran dimana-mana dan operasi – operasi plastik yang direalisasikan di rumah-rumah sakit di berbagai kota, juga gedung gedung ginastik yang terdapat di setiap tikungan jalan maupun bahan-bahan kosmetik dari seribu satu merek yang memadati toko-toko dan kios-kios tatarias.
Merawat kecantikan dan kesehatan tubuh jasmani bukanlah hal yang najis atau salah; masalahnya terletak dalam penyelahguaan dari kecantikan dan kesehatan tubuh itu sendiri. Orang bijak menghargai nilai dari kecantikan tetapi tidak mendewakannya seolah yang paling penting dalan hidup ini. Tetapi juga dipihak lainnya, apa bila kecantikan dan kesehatan tubuh jasmani itu tidak dijaga, adalah suatu isyarat ketidakpedulian terhadap rahkmad ciptaan Allah yang telah dipercayakan untuk dimanfaatkan demi hidup di dunia. Bacaan pertama sebenarnya mau bernabi kepada kita semua untuk menjaga keseimbangan hidup antara apa yang menjadi keinginan psikis dan apa yang menjadi kebutuhan roh. Seperti pepata latin mengatakan: “men sano in corpore sano” (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa atau mentalitas yang sehat). Tubuh jasmani kita adalah kenisah Roh Allah di dunia.
Sementara itu dalam bacaan kedua, rasul Paulus, lewat suratnya kepada umat Kristen de Tesalonika, mengingatkan kita tentang pentingnya hidup berjaga-jaga sebagai kekhasan hidup Kristen, di dalam Gereja dan dunia. Semangat hidup semacam ini adalah sebagai cara pencegahan terhadap bahaya pada saat datangnya hari Tuhan yang tak terduga dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita diajak olehnya untuk hidup sebagai anak-anak terang yang senantiasa berjaga-jaga secara aktif, pada setiap waktu dan tempat, untuk dapat menyambut saat tibanya hari Allah, karena tidak seorangpun tahu kapan dan apa tanda-tanda sebelum ketibaannya, di mana tempat tibanya serta bagaimana cara atau dengan “instrument” mana yang menghantarkannya pada saat ketibaannya itu. Rasul mendefinisikan saat kadatangan hari Tuhan seperti pencuri pada malam hari (cf. ay. 2).
Pada bacaan Injil, muncul suatu pertanyaan mendasar yang perlu mendapat perhatian khusus: Apa yang membuat hamba kepercayaan yang ketiga menyimpan barang tuannya? Apakah karena kemalasannya, seperti dikatakan oleh teks, atau hal lain yang membuatnya tidak mempunyai kemauan untuk mengembangkan harta yang diberikan? Orang manakah yang mentalitasnya mau diibaratkan dengan hamba kepercayaan yang ketiga ini? Mengapa tuan barang itu tidak memberikan kwantitas barangnya yang sama kepada ketiga hamba kepercayaan untuk dikembangkan? Mengapa kepercayaannya itu hanya diberikan kepada tiga orang dan bukan kepada lebih banyak orang?
Baiklah diingat selalu bahwa tantangan yang paling besar yang dihadapi oleh Mateus adalah dari dalam komunitasnya sendiri: kelompok garis keras dari faham yudaisme. Penginjil Mateus dalam Injilnya menggariskan kepada kita tentang semangat hidup kristen yang berjaga-jaga dengan cara mengembangkan kreatifitas atau bakat yang telah diberikan Tuhan pada saat awal penciptaan kita. Kita umat manusia ditempatkan oleh Allah di rumah transit existencial (dunia) ini dengan sudah dilengkapi bekal secukupnya untuk hidup: segumpal otak untuk berpikir, sebuah hati untuk merasa dan sepasang ginjal untuk membangunkan kemauan yang tinggi demi pengembangan diri. Inilah tiga pusat mesin penggerak yang diberikan Allah kepada manusia untuk digunakan secara kreatif dan bertanggungjawab demi kebahagiaan.
Mengenai simbolisme. Seperti diketahui bahwa Injil Mateus adalah lebih eklesial maka karakter teksnyapun nampak cukup tradisionalis (loyal pada tradisi). Teks dari Mateus adalah merupakan sebua ceritera-parabol tentang bakat, atau talenta yang pada hakikatnya melukiskan situasi pada penghakiman terakhir (ay. 19-30).Tiga hamba yang mendapatkan kepercayaan dari tuannya untuk bertanggungjawab dalam mengembangkan bakat dan kreatifitasnya, adalah simbol dari tiga patriarki: Abraham, Isaac dan Yakub. Kehidupan iman mereka adalah merupakan contoh dari hamba kesetiaan Allah bagi bangsa Israel. Dari ketiga patriarki inilah, sesuai iman Israel, menjadi asal mula dari “kesulungan” umat Hibrani (kaum perasingan) sabagai satu bangsa “pilihan” dalam ekonomi dari revelasi rahasia cinta Tuhan yang membebaskan dan menyelamatkan (three in one). Sementara lima talenta yang diberikan kepada hamba pertama, melambangkan kelima gulungan Kitab Hukum Musa. Dalam Kitib-Kitab inilah diceriterakan secara panjang lebar mengenai hubungan timbal-balik antara para patriarki dengan Allah yang mereka imani serta janji-janji berkat ilahi yang akan dilimpahkan dalam hidup mereka sendiri dan bagi semua keturunannya. Sementara dua talenta lainnya yang diberikan kepada hamba yang kedua, melambangkan dua loh batu dimana terlukis kesepuluh perintah Allah. Dan akhirnya satu talenta yang diperuntukkan kepada hamba yang ketiga, melambangkan iman akan keunisitasan (atau, ketunggalan)Tuhan dari bangsa yahudi. Tuhan bangsa Israel adalah satu lagi unik, dan di luar Tuhan tak ada Allah. Begitulah pengakuan iman bangsa akan keunisitasan Tuhan: Tuhan kita adalah Allah yang satu dan unik.
Kelompok yang menjaga kekayaan iman akan revelasi kudus Allah ini adalah kaum farisi, saduki, levi dan ahli-ahli taurat. Dari kelompok mereka inilah yang seharusnya menjadi pola panutan hidup kasih dari ketiga “bapa iman” dari pada masyarakat kecil dan kaum “kafir”. Mereka pulalah yang harus memberi contoh untuk menggalang persatuan dan kesatuan hidup intern dan extern. Namun kenyataannya hal ini menjadi terbalik, masyarakat kecil dan kaum “kafir” yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar secara lebih mendalam dan mendetail akan ajaran-ajaran nabi Musa, sejarah patriarki dan hukum-hukum Allah, justru merekalah yang menjadi pertama mengenal dan mengakui kehadiran Tuhan dalam diri Yesus Kristus serta menerima ajaran-ajarannya dan mempraktekannya dalam hidup keseharian mereka secara kreatif; sementara itu kaum farisi, kaum levi, ahli-ahli taurat dan golongan saduki justru menolak Yesus dan menutup diri dalam tradisionalisme yang steril, keram lagi kering.
Dengan demikian sudah menjadi jelas bagi kita bahwa mentalitas kemalasan dari orang-orang yang diibaratkan oleh Yesus dari Mateus dalam perumpamaan talenta di atas adalah ditujukan kepada kaum yahudi dari golongan fundamentalisme dan tradisionalisme yang steril lagi keram, statis, tidak memiliki mobolitas, tidak produktif, karena itu secara praktisnya boleh dikatakan mati kreatifitas intelektualnya, baik itu politik, teologis maupun psikoemosional dan spiritual serta gairah untuk hidup dan berkembang secara lebih baik, lebih manusiawi, lebih adil, jujur, setia, bijaksana serta bertanggungjawab. Sementara keadaan hamba pertama dan kedua, menurut penginjil, adalah mereka-mereka yang mengakui Yesus sebagai utusan Allah dan menerima pewartaannya serta dikembangkan secara kreatif agar rahkmad Allah menjadi berkelimpahan bagi hidup setiap umat beriman: masyarakat kecil dan kaum “kafir”. Kesetiaan, sesuai penginjil, adalah diukur dari segi kedewasaan dan kebebasan yang kreatif serta bertanggungjawab seperti hamba yang pertama dan kedua dan bukan seperti mentalitas steril, keram lagi kering dan yang tidak berproduktif seperti hamba yang ketiga. Situasi ini juga merupakan suatu tantangan konkrit bagi kita umat kristiani saat ini. Sebagai orang kristen, kita perlu bertanya selalu pada diri kita masing-masing: macam manakah watak atau mentalitas kita, seperti hamba yang pertama dan kedua atau seperti yang ketiga? Tidak jarang di dalam gereja dan komunitas-komunitas religius atau kongregasi-kongregasi kita, dalam keluarga dan masyarakat desa terdapat orang-orang yang jatuh ke dalam fanatisme dan tradisionalisme yang steril, keram lagi dingin, kering dan tak bercahaya, tidak ada keberanian (kemauan yang keras), kepercayaan diri serta kedewasaan untuk berkreatifitas dan, karena itulah, akhirnya mati. Tidak ada manfaatnya sedikitpun hidup yang mengikuti secara buta suatu tradisi demi tradisi dan hukum demi hukum. Justru golongan tradisionalisme inilah menjadi penghalang bagi pertumbuhan hidup yang dewasa dan kreatif, baik dalam gereja, dalam kongregasi religius, maupun dalam keluarga dan dalam masyarakat politik. Salah satu pengkhianatan yang paling jahat dan keji adalah seperti yang diibaratkan oleh mentalitas hamba yang ketiga dalam perumpamaan di atas.
Hendaknya kita senantiasa berjaga-jaga setiap saat dan di mana saja berada sambil mengembangkan kreatifitas hidup dengan penuh percaya diri, bebas, dewasa serta bertanggungjawab selama menunggu datangnya “hari Tuhan” kita masing-masing. Waspadalah, agar “hari Tuhanmu” jangan sampai tiba seperti pencuri di malam hari. Jadikanlah dirimu sebagai pribadi kristen yang beriman secara dewasa, kritis, kreatif, bebas dan bertanggungjawab.
___________&&&__________
Fr. Lukas Betekeneng, CMM

Nenhum comentário:

Postar um comentário