quinta-feira, 25 de outubro de 2012

TAHUKAH ANDA, SIAPA DIRIMU?

Kenalilah pribadimu, wahai engkau manusia...
Baharuilah batinmu, wahai engkau wahana kasih...
Kembalilah pada dirimu, wahai engkau mutiara cinta...

Kaulah insan ciptaan Allah yang masih terpuruk di lumpur dosa...
Duta surga di dunia yang terus geletak di neraka nista...
Makluk firdaus di alam fana yang tetap terkucil di kegelapan angan...
Sahabat Pencipta di dalam ciptaan yang masih dalam kebutaan hasrat...

Sadarilah..., renungkanlah..., bukalah mata dan telinga jiwamu...

Lemah otak-kuat otot; lemah moral-kuat shawat; miskin iman-kayah dosa; buta cinta-pintar dusta; redah pekerti-tinggi hati; kurang etika-lebih korupsi...

Bagaikan pohon dikenal lewat buahnya, begitu pula manusia dari perbuatannya. Pernakah anda berpikir bahwa:

Tuhan yang diidealisasi, yang tidak memiliki wajah kultural bangsa sendiri adalah baal/mamon???

Kepercayaan yang tidak didasari atas pengalaman konkret kehidupan sehari hari adalah berhala/sai-sai???

Iman yang tidak tumbuh dari alam budaya sendiri adalah iman plagiat/rombengan???

Agama yang tidak memiliki nilai moral pendidikan kemanusiaan yang memanusiakan daya nalar, daya rasa dan kehendak sehat insani, itu bukan agama???

Teologi yang tidak tahu mengasimilasi dialek lokal dan tidak mampu menjawab tantangan nyata dari kehidupan umat manusia adalah ilusi???

Doa yang tidak teraplikasi dalam tindakan hidup konkrit dan pengalaman hidup relasional yang tidak memberikan inspirasi bagi ayat-ayat doa harian adalah fantasi???

Manusia yang tidak mampu hidup dan berelasi secara sehat dan damai dengan sesama manusia sebagaimana manusia adanya, itu bukan manusia???

                                                (L. Betekeneng)

terça-feira, 23 de outubro de 2012

SHARING RINDU

(Sebuah permenungan cinta)

Di suatu kegelapan malam, di tengah gemurunya badai selatan yang keras menghembus menampar alam, dengan langkahku yang mengayun ragu, ku coba melewati derasnya air langit yang jatuh mengguyuri tanah, memoles bumi, mengecup kuncup, membelai semesta, membilas iman , merangsang harap, menggoda niat, merayu kasih...

Dengan amat serentak,  di balik kekelaman  gulitanya malam, terdengar sayup suara mengalun, di telingaku menggema namaku dipanggil: oh, kekasihku! Begitulah sayang menyapaku lembut diiringi bias senyumnya yang dari bibir terpoles manis. Untuk menghalau jauh curigaku yang masih mencekam beraniku kecut, ia pun terus bernada sendu untuk yakinku yang lemah diteguh:Janganlah kau gelisahkan jiwamu! Percayalah! Banguhkanlah niat, teguhkanlah iman, kuatkanlah harap, kokohkanlah cinta, aku datang hanya untukmu...

Telah lama kau kucari, bertahun sudah kau kunanti: segala penjuru aku berlari..., di semua semesta kucoba simak..., di segala padang kuingin menebak..., pada rerumputan pun sudah kutanya..., namun jawab satu pun tak ada datang. Laut sepertinya membisu, langit pun pada diam, gunung hanya menggeleng kepala, bukit sekedar mengangkat bahu, datar sejenak membuka tangan, ombak terus mencibir bibir, rembulan sampai mengerut kening hingga surya pun ternganga bingung...

Hatiku tiba tiba berhenti berdetak mengiringi langkahku yang kini terhentak saat mendengar lantunan kesaksian cinta yang mengalir dari relung sukma kesayangan jiwaku yang merindu. Dari batin yang masih gemetar kocoba melambung nadaku getar untuk menjawab lantun cintanya: oh sayangku! Hanya engkaulah batinku rindu! Sungguh, di dada jiwaku melonjak riang ketika mendengar alun manis suara memanggil. Telah lama kau kurindu, hanya padamulah hatiku bermimpi, jiwaku mengangan, imanku bertanya, sukmaku menangis, percayaku pilu, yakinku gelisah, harapku kesah...

Namun kini kau kutemu, rasaku pun tenguh karena sayangku kembali di dalam rangkul cintaku utuh. Hanya padamu kini aku berserah, ke mana pun pergi aku berada. Seumpama fajar dan rembulan, di setiap lintas kita berpapas, bagaikan siang dan malam, di suatu penghujung kita berjumpa, laksana bulan dan bintang, di langit yang satu kita bersama, seperti laut dan darat, di segala pesisir kita bertemu, ibarat langit dan bumi, di semua ufuk kita menyatu. Begitulah nasip cinta kita, mulai kini dan selamanya akan tetap menjadi sejoli dalam kasih yang utuh dan tak terpisahkan...

(L. Betekeneng)

domingo, 21 de outubro de 2012

KETAATAN

Harapan dan tantangannya dalam hidup keimanan

(Sekedar untuk merenung)

Prinsip dasar dari dinamika ketaatan selalu dimulai dari sikap mendengarkan secara saksama dan diakhiri dengan perealisasian secara efektif dan efisien. Tindakan hidup ketaatan memiliki kurang lebih 4 implikasi pemahaman: a). Subordinasi atas kehendak orang lain (...); b). menerima tanpa komentar suatu instruksi; c). merealisasikan suatu perintah atau permintaan tanpa diskusi; d). mematuhi atau menuruti suatu larangan tanpa kecuali. Dari konteks penghayatannya ketaatan dapat disoroti dari beberapa model. Dengan amat ringkas kita coba melihat satu per satu dari model ketaatan untuk membantu memperdalam refleksi tentang tema utama yakni, ketaatan sebagai kaul religius.

Ketaatan militer. Adalah suatu model ketaatan vertikal yang total, tanpa syarat, tidak mengijinkan diskusi logika “mengapa dan untuk apa” mentaati suatu perintah. Ada suatu peribahasa kuno mengatakan demikian: “memerintah bagi yang berkuasa dan menuruti bagi yang punyai pertimbangan”. Ketaatan semacam ini di dalam konteks kehidupan militer tidak bisa dinilai sebagai suatu ketaan “buta”, dalam arti yang negatif, tetapi perlu dipahami sebagai suatu jenis “ketaatan konsekwensif” hierarkis (atau ketaatan fungsional, instrumental antara bawahan terhadap otoriatas dari atasan dalam struktur kekuasaan). Karena itulah makanya ketaatan militer juga dapat didefinisikan sebagai suatu “ketaatan struktur”.

Ketaatan infantil. Ketaatan jenis ini dapat didefinisikan sebagai suatu jenis ketaatan yang dijalankan dengan tujuan untuk mendapat penilaian positif di mata mereka yang memimpin (“supermarket ketaatan”: anda taat anda disayang, anda melawan anda melayang). Dari aspek psikosocial, model ketaatan semacam ini dapat disejajarkan dengan tipe ketaatan militer, Cuma bedanya di sini, ialah bahwa ketaatan militer lebih bersifat mutlak struktural (non-negosiasi), sementara ketaatan infantil lebih ke arah negosiai “komersial” mental di mana kedua pihak sama sama ingin mendapatkan “keuntungan”  (kepuasan psikologis bagi yang memerintah dan diperintah). ketaatan do ut des, ketaatan yang tidak dewasa, juga tidak bertanggungjawab. Tidak dipungkiri bahwa banyak kaum religius yang menjalankan ketaatan tipe ini.

Ketaatan solider. Yang dimaksudkan dengan ketaatan solider di sini ialah ketaatan yang dilakukan oleh seseorang secara spontan saat menggabung diri dengan sukarela dalam suatu kelompok, dan karena itu mengadopsi semua ide dan ketentuan dari kelompok, secara sadar, sebagai bahagian dari hidupnya, baik itu untuk suatu jangka waktu yang pendek atau panjang.

Ketaatan sosiologis. Sesuai dengan pandangan seorang hakim dan sosiolog Jerman, Maximilian Karl Emil Weber – atau biasa dikenal secara akrab dengan “Max Weber” (1864 – 1920), adalah merupakan karakteristik dari dominasi sosial. Dalam suatu sistim sosial yang terdiri dari klas klas, menurut pendapat Webwr, biasanya klas yang lebih kuat mendominasi klas klas yang secara social lemah. Ketaatan di sini dipahami lebih sebagai kepasrahan nasip hidup, dari klas yang lemah dan perbudakan atau eksplorasi, dari klas dominan.

Ketaatan sukarela. Di sini dipahami sebagai suatu norma dasar untuk menjamin kehidupan bersama dalam suatu kelompok atau sosietas. Contoh untuk itu, ialah kesepuluh “Perintah Allah” dimana dijadikan sebagai pedomen arah bagi organisasi kehidupan bersama bangsa Israel. Setiap indiviu dimintakan kesiapsediaannya untuk menjaga keutuhan dalam kehidupan bersama dengan memelihara dan mentaati norma norma dasar kebersamaan. Pada hakikatnya ketaatan jenis ini dijalankan karena didorong oleh arti dan nilai hakiki dari norma dasar yang menjamin keadilan, kedamaian, hak asasi, persatuan dan kesatuan dari kelompok itu sendiri. Tidak dipaksa untuk mentaatinya, tetapi sekali masuk dan mengambil bahagian dalam kelompok, kepatuhan atas norma demi terjaminnya kesejahteraan bersama, adalah merupakan tanggungjawab dari semua untuk semua. Bila ada individu yang dengan sengaja melanggarnya maka ia akan dikenakan sangsi sesuai dengan ketentuan norma yang berlaku. Dari pihak lain perlulah diingat bahwa segala macam norma apa pun, adalah karya dari manusia untuk manusia, dan bukan sebaliknya. Betapapun baiknya suatu norma, ia tetap sekedar norma dan tidak lebih dari itu.

Ketaatan iman religius. Dua figur biblis sebagai contoh dari jenis ketaatan ini: Abraham (sebagai model iman umat dalam Parjanjian Dasar) dan Maria dari Nazaret (sebagai model iman umat dalam Perjanjian Kepenuhan). Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no 143 dapat dibaca: “berdasarkan iman, manusia menyerahkan dirinya secara total dan tanpa syarat kepada kehendak Allah”. Untuk dapat menjalankan ketaatan ini diperlukan suatu sikap mendengarkan suara Allah (dengan membaca Kitab Suci mau pun lewat meditasi dan juga sharing tentang “inspirasi Roh Allah yang berbisik di nurani setiap insan). Untuk mendalami lebih lanjut topik ini, silahkan membaca rumusan KGK, mulai dari nomor 144 dan seterusnya.

Ketaatan antisipasi. Term ketaatan ini sebenarnya dipopulerkan oleh kelompok jesuit yang dikenal dengan singkatan AMDG -  Ad Maiorem Dei Gloriam. Ketaatan jesuit dilakukan dengan tujuan demi kemuliaan Allah yang besar. Di hall di Georgetown University di Amrika Serikat dapat dibaca kalimat lain sebagai kelengkapan dari yang pertama: “Ad maiorem Dei Gloriam Inque Hominum Salutem” (diartikan sebagai segalanya dilakukan “demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia”). Demi tujuan inilah makanya manusia didorong untuk melakukan ketaatan secara aintisipasi. Artinya bahwa, sebelum adanya penegasan dari atas untuk taat, pribadi sudah melakukannya terlebih dahulu. Kendati dengan semboyan ketaatan yang begitu bagus, paling tidak secara teori, namun dalam prakteknya tidak terlepas pula dari kelemahan manusia, baik itu dalam praktek hidup interen mau pun dan terlebih lagi dalam tugas perutusan. Baiklah diingat bahwa ide Tuhan – dan Kitab Suci – tidak jarang dimanipulasi oleh kelompok ini (juga oleh berbagai kongregasi religius lainnya) sepanjang sejarah misinya di dunia. Untuk mengetahui lebih jauh akan kepincangan ini, silahkan baca sejarah tentang misi jesuit maupun misi dari kongegasi lainnya di dunia. Bukan sedikita manusia diperkosa, diperbudak, disakiti dan dibunuh secara kejam demi nama ketaatan dengan dilatarbelakangi bendera Allah dan atau Kitab Suci.


Ketaatan hierarkis. Adalah, sesuai dengan definisinya, suatu ketaatan yang bersifat diskriminatif dan eksklusif. Merupakan suatu sikap penyerahan tak bersyarat dari bawahan kepada atasan. Norma ketaatan di sini dibuat lebih untuk menjamin keberhasilan tugas fungsional dan wibawa dari otoritas dari pada melindungi nilai diri bawahan. Logika ketaatan dalam lingkup hierarkis adalah hak – dari atasan – dan kewajiban – dari bawahan. Mendapat premium – moral, promosi profesional mau pun imbalan material – bagi yang menjalan kewajiban ketaatannya secara total dan ganjaran hukuman bagi yang kurang atau tidak patuh terhadap norma atasan. Dalam iklim seperti inilah tumbuh apa yang dikenal dengan “tindakan penyalahgunaan kekuasaan”, otoritarisme, tirani, kolonialisme, perbudakan, feodalisme dan lain lain macam kejahatan kekuasaan yang sering dilakukan oleh seseorang yang berada di tampuk kepemimpinan, baik itu di dalam kehidupan keluarga, dalam organisasi sosial kemasyarakatan, dalam instansi politik mau pun dalam lingkup kehidupan religius pada umumnya (dan dalam gereja kristen khususnya dan gereja roma secara khusus serta dalam komunitas komunitas religius secara spesifik).  


Ketaatan sebagai kaul religius.

Santu Yohanes mendefinisikan pengalamannya tentang Allah dengan suatu kalimat yang pendek tetapi padat lagi dalam maknanya, demikian: “Allah adalah cinta” yang hidup dan membebaskan, dan cintanya yang membebaskan itu mencakup seluruh ciptaan (lih. 1Yoh 4,16; lih. juga, Mz 144,8). Dengan kata lain, manusia adalah Roh Kasih (cinta) kebebasan dari Allah Pencipta dalam bentuk tubuh insan yang sedang beroperasi di dunia ciptaan (lih Kej 1,26.27; 2,7). Dari sudut pandang antropologis, manusia itu adalah suatu makluk bebas. Begitu pula dari sudut pandang kejiwaan (psikologi), tidak ada manusia – normal – di dunia ini yang mau tunduk atau pun ditundukkan tanpa syarat di bawa kuasa orang lain. Dalam hidupnya di dunia ia, sesuai dengan sifat alamnya, senantiasa berusaha untuk membebaskan diri dan orang lain dari segala keterikatan demi memelihara nilai unsur pribadinya sebagai insan bebas, yang dibekali Allah dengan daya pikir (otak), daya rasa (hati) dan daya kehendak atau kemauan (ginjal). Berangkat dari tiga dasar utama (teologis-biblis, antropologis dan psikologis) inilah kita coba merefleksikan sedikit lagi tentang ketaatan sebagai kaul dalam hidup membiara dan “mengagama” di dalam gereja kristen roma.

Ketaatan, yang merupakan bahagian integral dari tiga kaul religius, adalah merupakan titik temu dari kaul “kemurnian” dan kaul kemiskinan. Pemahaman ketaatan, dalam konteks ini, merupakan suatu sikap penyerahan diri atas kehendak yang Maha Kuasa sebagai wujud nyata oblasi. Artinya bahwa, sikap ketaatan dijalankan sebagai pengurbanan diri dan kepentingan pribadi (dalam arti positif) demi kebaikan sesama (sikap hidup iman martirial). Dalam sepanjang perjalanan sejarah gereja, ketaatan dipahami sebagai suatu aksi radikal dari penyangkalan (negasi) diri, suatu sikap menerima dan menjalankan norma dan atau perintah atasan tanpa komentar. Atasan, dalam konteks ini, diinterprestasikan sebagai figur representatif dari Allah yang berkuasa di dunia (dalam hal ini, di institusi institusi, baik sipil mau pun religius). Beberapa pertanyaan provokatif untuk sharing. Bagaimana ketaatan itu dihayati dalam hidup menggereja, membiara dan juga mendunia di dalam milenium ketiga ini? Apa pemahaman iman keagamaan dalam dalam kaitannya denga ketaatan di dunia pós-moderen? Apa tipe ketaatan yang sedang dihayati dalam gereja, kongregasi dan atau dalam komunitas kebiaraanmu?

Paradoks existensial. Sudah dikatakan di atas bahwa, baik dari sudut pandang teologis-biblis, antropologis maupun psikologis, manusia itu adalah makluk yang bebas, yang memiliki kemampuan untuk berpikir, untuk merasa dan untuk berkehendak. Semua jenis reaksi pemberontakkan adalah suatu signal nyata yang menunjukan bahwa manusia itu secara alami adalah insan anti-konformisme. Ketaatan secara tak bersyarat (seperti ketaatan hierarkis) dipahami sebagai ancaman bagi nilai integral dari dirinya sebagai makluk pemikir, perasa dan pendorong. Ini merupaka salah satu tangtangan dari ketaatan masa kini.

Manusia pada dasarnya tidak pernah bebas secara total, sebaliknya ia adalah insan dual, itu artinya bahwa adalah makluk, yang sakaligus, bebas dan terikat. Rasul Paulus mensharingkan pengalamannya sendiri akan kenyataan itu ketika berkata: “Aku tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi dengan aku, sebab aku tidak melakukan apa yang kukehendaki, tetapi sebaliknya melakukan yang justru kubenci” (Rom 7,15). Diinspirasikan oleh kutipan ini Konsili Vatikan II berkata: “Umat manusia tidak pernah memahami arti tentang kebebasan yang begitu tajam seperti zaman ini, tetapi sekaligus hal itu pula menjadi model baru perbudakan sosial mau pun psikologis (GS, 4). Kontradiksi yang ada dalam dunia politik, dalam hidup keagamaan pada umumnya, dalam gereja kristen dan khususnya gereja Roma serta dalam kehidupan keluarga, mebuat orang orang zaman ini tidak lagi menghargai nilai dari ketaatan itu sendiri. Gereja hierarki dan kaum religius seluruhnya perlu lebih menjadi exemplifikator keselarasan hidup antara iman kepercayaan (doa) dan pengaplikasiannya dari pada menjadi explikator tentang spekulasi antara doa dan kerja.

Definisi ketaatan. Ini berkaitan langsung dengan hierarki. Teori dan atau definisi definisi tentang ketaatan yang kontradiktif dengan prakteknya, bagi manusia pós-moderen (atau hipermoderen), itu adalah hampa, tidak ada gunanya, betapa pun indah dan kayanya teori itu, semuanya tidak berguna sama sekali. Bila ketaatan dijalankan hanya demi ketaatan, hal ini akan melecehkan nilai luhur dari pribadi insan pós-moderen, dan tentunya ketaatan akan ditolak. Baiklah disadari, sekali untuk selamanya, bahwa semua apa yang dikatakan dengan mengutip Kitab Suci, belum tentu Kitab Suci mengatakan hal yang sama, dan pula tidak ada jaminan apa pun bahwa semua yang dibuat atas nama Allah, sudah dapat pasti dipercaya bahwa Allah akan mengkonfirmasikan perbuatan itu. Suatu ketaatan dijalankan tanpa didasari atas kasih yang dewasa, keadilan dan kejujuran adalah perbudakan, tetapi bila dilakukan dalam semangat dan karena cinta, adalah kesetiaan.

Ketaatan sebagai model hidup kerasulan dari Yesus yang taat. Ketaatan yang didasari atas prinsip ini adalah, seyogianya, merupakan ketaatan yang dewasa dan bertanggungjawab serta bersifat humanis dan tentunya menyelamatkan. Menghayati ketaatan tidak sama artinya dengan ketergantungan total dari individu pada otoritas. Ketaatan religius kristen adalah suatu jenis ketaatan yang sehat dan seimbang baik itu secara vertikal mau pun horizontal. Lain dari itu adalah tirani, manipulasi, kebohongan, korupsi, perbudakan, eksplorasi, infantilisme, hierarkisme, otoritarisme, feodalisme. Satu hal positif yang tidak boleh disangkal dari pós-moderen ialah kenabiannya: pós-moderen mendenunsiasikan manipulasi serta penyimpangan ketaatan dan menganunsiasikan sikap metanoia untuk menghargai dan menyelamatkan nilai kebebasan pribadi setiap insan ciptaan Allah, kemandirian yang dewasa, penghargaan akan keadilan dan hak asasi dari setiap pribadi sebagai manusia yang layak dan bebas.

Ketaatan sebagai model hidup kerasulan seyogianya dijalankan dengan suatu semangat baru: ketaatan yang sehat, yang memanusiakan manusia, yang membangun, yang memiliki nilai mistik dan spiritual yang kristis (ketaatan sebagai kreatifitas dalam kesetiaan kerasulan Kristus – dan bukan kesetiaan yang kreatif). Hidup religius tidak pantas terkurung dalam penghayatan ketaatan yang dangkal dan memperbudak manusia, tidak sesuai dengan Roh Allah yang membebaskan, ia perlu menjadi nabi dalam hidup iman gerejani. Ia tidak boleh mengurung diri dalam pemahaman ketaatan tradisional. Ia perlu sadar bahwa pós-moderen telah memodifikasi pemahaman akan ketaatan, telah merekonfigurasi teori akan ketaatan dengan nilai memanusiakan pribadi pribadi manusia konkret sebagai elemen dasar dari dan untuk kebersamaan. Kesucian hidup manusia tidak diperoleh lewat ketaatan tanpa syarat ala perbudakan, tanpa menghiraukan juga tidak memperhitungkan nilai manusia gambar dan rupa Allah. Norma ketaatan religius kristen belum tentu merupakan model ketaatan kristis dari Yesus orang Nazaret. Hal ini perlu dicermati secara kristis, dewasa dan seimbang agar nilai nilai luhur kemanusiaan tidak dilecehkan oleh tindakan ketaan dengan bendera iman keagamaan apa pun.
(L. Betekeneng)

terça-feira, 16 de outubro de 2012

MENYIMAK KEMBALI INSPIRASI HISTORIS PENDIRIAN KONGREGASI DARI MGR. JOANNES ZWIJSEN

Hari ini (16 Oktober 2012) para suster SCMM dan frater CMM memperingati hari wafatnya pendiri Kongregasi, Mgr. Joannes Zwijsen, 16 Oktober 1877 (135 tahun silam). Mengenang hari wafatnya sang pendiri bukan hanya sekedar mengucapkan terima kasih atas warisan dari karya pendirian dalam bentuk doa doa devotif (doa rosário) dan atau selebrasi Ekaristi belaka yang kemudian ditutupi dengan makan dan minum. Semua itu baik, tetapi tidak cukup. Kita perlu sadar diri bahwa menjadi saudara dan saudari dalam keluarga Belaskasih Zwijsen berarti menjadi ko-pendiri kongregasinya, hari demi hari. Artinya bahwa karya yang diterima dari tangan pendiri itu perlu direnovasi, adaptasi dan aktualisasi, perlu diletakan kembali fundasi di atas cadas iman injili sesuai dengan konteks kehidupan di mana kita berada dan berkarya.
Mgr. Joannes Zwijsen memang tidak termasuk – dan tidak perlu masuk – pada daftar para pendiri yang besar dan karena itu terkenal dalam sejarah pendirian kongregasi di dalam Gereja Katolik Roma. Hal ini adalah amat sangat relatif. Joannes Zwijsen adalah figur yang sederhana pada zamannya, adalah sorang pendiri kecil – dari kongregasi Suster dan Frater – yang memiliki inspirasi yang besar, visi yang luas dan misi pewartaan Berita Baru Allah yang tak terukur nilai – dan karena tahan zaman – lewat usaha karya belaskasih demi membangun dunia baru yang semakin manusiawi, semakin persaudaraan dan semakin kekeluargaan dimana meraja kedamaian, hak asasi, keadilan dan kebahagiaan roh dalam hidup setiap insan manusia. Untuk tujuan mulia ini, bagi Mgr. Joannes Zwijsen, pendidikan adalah satu satunya jalan. Pendiri sungguh sadar dan percaya bahwa hanya lewat pendirikanlah manusia itu dapat dibentuk daya pikir, daya rasa dan daya kehendaknya sebagai citra ciptaan yang diciptakan sesuai gambar dan rupa dari Sang Pencipta. Dalam dan lewat pendidikanlah harapan kelahiran “manusia baru untuk dunia baru” (lih. Mrk 2,18-22) dapat dibangun semangat hidup kekeluargaan yang solider dan yang bertanggungjawab, yang hidup dan aksinya senantiasa dijiwai serta dituntun oleh terang Roh belaskasih Allah. Jelaslah sudah bahwa Mgr. Joannes Zwijsen bukanlah seorang yang sibuk untuk membentuk otot perut orang miskin dengan memikul berkarung karung makanan dan pakain dan ditumpukkan di depan mereka dengan berkata: “makanlah dan pakailah sampai puas, dan bila sudah habis maka datanglah kepadaku hai kalian semua – atau pun aku dapat mencarimu di mana kamu berada – karena di rumah aku dapat memberikan  anda makan, minum dan pakai tanpa bayar”.
Situasi kemiskinan yang menimpah hidup sesama manusia, baik dalam arti “kogonal” (kekurangan kebutuhan hidup dasar sehari sehari seperti: sandang, pangan dan perumahan mau pun jaminan kesehatan), atau dalam arti ketidakmampuan berproduksi secara ekonomi untuk dapat mempertahankan hidup pribadi dan keluarga, mau pun juga kemiskinan dalam faktor penyingkiran (diskriminasi) sosial yang membuat orang tidak dapat berpartisipasi secara aktif dalam gerak langkah kehidupan dalam bermasyarakat dan berbangsa, semua itu adalah merupakan keterpurukkan mentalitas manusia (kerawanan pembinaan) untuk menjadi manusia-Allah dalam dunia. Masalah keterlantaran dan kemiskinan yang melanda Eropa pada saat itu akibat dari peperangan, dari kaca mata pendiri, ini adalah merupakan buah dari mentalitas mentalitas manusia yang arogan, yang egois, yang kurang terdidik, karenanya dikuasai oleh semangat animalis yang liar lagi buas. Mengharap suatu dunia baru di hari esok perlu disiapkan mulai hari ini, kini dan di sini manusia manusia baru. Pribadi pribadi manusia – pria dan wanita – perlu dikandung dan dilahirkan kembali dalam Roh kasih Allah (lih. Joh 3,3) untuk bisa mampu mengemban tugas merevelasikan wajah Allah yang damai dan berbelaskasih di dunia kehidupan. Karena itulah Mgr. Joannes Zwijsen sangat sibuk untuk merawat, melindungi dan mempersipakan generasi generasi masa depan dengan berusaha membimbang dan mendidik daya pikir, daya rasa dan daya kehendak yang lebih berperihkemanusiaan dan persaudaraan. Dalam kediamannya yang selalu aktif dapat dibaca inspirasinya yang dalam dan mulai: pendidikan adalah sekolah cinta, adalah pusat pembentukan kewajaran mentalitas hidup manusia baru bagi dunia baru yang lebih baik. Bagi kita Kon-suster dan konfrater perlu sadar diri bahwa bentuk identitas kongregasi kita adalah merupakan jawaban nyata dari Joannes Zwijsen atas seruan Injil Yesus: “tidak ada seorang pun di antara kamu memperbolehkan dirinya untuk dipanggil guru, bapa atau pun pemimpin di dunia ini karena hanya ada satu Guru, satu Bapa dan satu Pemimpin, ialah yang ada di Surga, dan kamu semua adalah saudara dan saudari” (lih. Mat 3,8-10). Karya karismatis pendidikan dalam semangat Maria adalah Belaskasih Allah yang tengah beroperasi di dunia. Saya yakin, tindakan pendiri dalam mendirikan kongregasi kita sebagai suatu kongregasi non-klerus adalah merupakan perwujudan iman kerasulannya sebagai pengikut Yesus dari Nazaret, yang juga disebut sebagi Kristus-Saudara berbelaskasih. Menjadi saudara dan saudari dalam iman kerasulan Yesus sebagaimana diserukan artinya bahwa kita menerima Allah Tritunggal sebagai usul asal kehidupan existensial dan kita semua adalah saudara dan saudari yang dikandungkan kembali dalam rahim kasih Tuhan dan dilahirkan kembalih dalam Roh cintanya. Menjadi saudara dan saudari (suster dan frater) dalam konteks kita bukan hanya karena percaya dengan perkataan, tetapi sungguh yakin dari hati bahwa kita semua, oleh itu, adalah saudara dan saudari kandung karena dikandungi kembali dalam satu rahim kasih Tuhan. Kita semua adalah saudara dan saudari secara faktual dalam satu tubuh dan satu darah karena Tubuh dan Darah dari Yesus Kristus, Saudara sulung dari kita semua umat manusia. Missi hidup kita sebagai saudara dan saudari (suster dan frater) kiranya mampu menjadi signal nyata dari antisipasi kehidupan komunial, relasional, unitas dan komunikasional yang abadi dan kekal dalam Keluarga surgawi dimana Tuhan Allah kita akan menjadi segalanya dalam semua (1Kor 15,28). Dalam kacamata iman, kita tahu dan sadar bahwa ada saudara dan saudari kita lahir dan hidup di Asia, Oseania, Afrika, Amerika dan Eropa. Perbedaan ini tidak menjadi alasan perpecahan, sebaliknya menjadi motif kerinduan untuk membangun persatuan dan kesatuan hidup dalam kasih cinta yang semakin kuat. Itulah, menurut saya, merupakan misi hidup yang mulia dan sekaligus suatu tantangan monumental dari perutusan kita, dalam kehidupan menggereja dan mendunia kini dan di sini. Dalam rangka memperingati hari wafatnya pendiri ini, bagi saya, kita perlu bertanya dan bertanya lagi akan keaslian identitas hidup dan karya kita sebagai suster dan frater dalam semangat Maria, yang adalah ibu dan pedagog dalam Keluarga kudus Yoseph dan Yesus dari Nazaret.     
                                    __________&&&__________
L. Betekeneng
Pertanyaan untuk refleksi: Siapa itu Maria dalam kaca mata Zwijsen? Mengapa Joannes Zwijsen mengangkat Maria sebagai pelindung Kongregasi kita? Siapakah Yesus bagi Mgr. Joannes Zwijsen? Apakah karya pendidikan kita sungguh dijiwai semangat belaskasih yang membebaskan sesuai inspirasi Joannes Zwijsen? Bagaimana menjadi suster dan frater di dalam milenium ketiga ini?

sábado, 13 de outubro de 2012

MASALAH POLITIK

Hadiah Nobel Perdamaian - 2012

“Jangan sekali kali membuang emas, mutiara atau permata mana pun di depan seekor babi”.

Begitulah suatu peribahasa kuno, namun tetap aktual maknanya, dalam kehidupan budaya sosial dunia timur. Alassannya sederhana saja tetapi jelas tujuan dan dalam maknanya. Alasan dari pepatah ini ialah – secara harafia – bahwa babi, seperti semua jenis babi lainnya, tidak mengerti apa itu emas, mutiara atau pun permata lainnya, juga tidak tahu apa nilainya bagi hidup, sebagaimana dimengerti oleh makluk rasional, sentimental dan yang berkemauan sehat lagi humanis layaknya insan manusia yang berbudi luhur dan agung. Memang kaum bijak di dunia timur, pada jaman dahulu, selalu memberikan petuah petuah kepada anak dan cucu mereka sebagai nasehat atau pun bimbingan hidup dalam bentuk peribahasa dan atau kiasan. Menurut mereka, metode ajaran seperti itu lebih dalam dan kaya, tahan masa lagi lebih memiliki dinamika yang besar dan senantiasa aktual fatwa kebijaksanaanya untuk hidup setiap manusia.
Pada kenyataan sehari hari bahwa ada manusia yang hanya menjujung rongga kepala dengan materi simbolis dari rasional (otak) di dalamnya tetapi tidak mempunyai daya rasionalisasi yang cukup matang dan dewasa sebagaimana layaknya manusia yang mempunyai watak sehat, seimbang dan berbudi luhur serta yang berperihkemanusiaan yang tinggi. Ada lain manusia pula yang sekedar memikul rongga dada dengan sumber simbolis dari rasa (hati) di dalamnya tetapi sudah mati rasa kelayakkan kepribadian insaninya sebagai makluk ciptaan yang memiliki sensibilisasi kehidupan kemanusiaan yang kompleks, yang sadar sungguh bahwa pribadinya sendiri adalah merupakan bahagian yang tak terpisahkan dari pribadi insani yang lain, dan juga sebaliknya, dalam konteks kehidupan sosial (insan interdependent) sehari hari. Dan masih ada pula orang orang yang semata menjinjing kotak pinggul dengan sepasang alat simbolis dari kapasitas kemauan (ginjal) atau sikap dan atau kehendak baik yang mampu menstimulasikan dan menuntun kehidupan relasi, aksi dan interaksi yang tertanggungjawab, baik demi kabahagiaan dan keselamatan hidupnya sendiri, orang lain mau pun kehidupan alam semesta pada umumnya, tetapi tidak lagi memiliki daya pengembangan keinginan kemanusiaan untuk bertindak secara konsisten dan konsekwen demi terjaminnya keselamatan dan kesejahteraan hidup bersama.
Jenis mentalitas kemanusiaan seperti inilah tujuan petuah atau nasehat kebijakan di atas ditujukan. Manusia, yang adalah hasil produksi dari sosietas, yang adalah hasil produksi dari manusia itu sendiri, memiliki sikap watak yang sering tidak dapat dipahami oleh otak sehat. Tetapi itu apa kaitannya dengan masalah politik? Kemarin, ketika saya mengikuti jurnal nasional lewat channel TV Gobo yang memberitakan tentang hadiah Nobel perdamaian untuk masyarakat Eropa. Berita ini, buat saya, merupakan lawak politik, atau suatu ironi yang tak terukur. Bukan hanya itu, juga merupakan suatu demonstrasi nyata akan diskredit dan diskrepansi dari politik dunia dalam kaitannya dengan apa yang sungguh menjadi KEBENARAN (faktual) politik dan apa itu DUSTA (fiktual) dari pribadi (atau kelompok) politikus yang ingin mengkudai institusi politik mana pun demi mempromosikan dirinya sendiri, dengan membagi bagikan hadiah hiburan, bagaikan santa klaus di masa menjelang Natal, sesuka hatinya dan sesuai keinginannya sendiri – tanpa memperhitungkan lebih jauh rasa politik internasional. Hemat saya, bila institusi yang memberikan hadiah Nobel itu merupakan suatu institusi politik yang sungguh amat sangat serius lagi jujur, dewasa dan bertanggungjawab, ia tidak akan melakukan hal itu seperti telah dibuatnya. Karena itu adalah suatu sikap nista terhadap institusi itu sendiri yang dipercayai dan diharapkan dapat berjuang demi menegakkan keBENARan dan keADILan di tengat sosietas dunia dengan cara cara yang lebih terpuji.
Kendati mungkin ada terselip maksud baik lainnya – dari sudut pandang politik - di balik keputusan itu, perealisasian (aksi) dari keputusan itu tidak sedikitpun menunjukan KEBENARAN NILAI dari aksi politik penghadiaan Nobel sebagai suatu tindakan sehat untuk berpolitik – di masa pos-moderen ini. Tinggal pertanyaan saya: tipe DAMAI macam manakah politik eropa telah melakukannya dengan sungguh sungguh dalam semangat kejujuran dan transparan bagi dunia, demi perDAMAIan itu sendiri (politik perdamaian dengan cara perdamaian, dalam semangat perdamaian dan untuk hidup perdamaian bagi semua insan manusia)? Bahagian dari dunia manakah yang lebih membuat memprovokasi dan mempromosikan pembantaian hidup manusia dari segala zaman dan masih terus membantai orang orang yang tak berdaya di dunia sampai saat ini? Serdado serdado dari belahan dunia manakah yang kini sedang membunuh orang orang kecil di berbagai sudut bumi, menyebarkan teror kehidupan bagi masyarakat dengan bertopengkan kedamaian, hak asasi, keadilan dan kebebasan?
Amatlah baik diingat senantiasa bahwa figur figur politik tiranis dan otoriter yang, memang disayangkan tetapi, masih memegang kekuasaan puncak di beberapa negara di berbagai belahan dunia saat ini, pada masa lalu adalah merupakan figur representatif (tangan kanan) dari mentalitas expansionisme dan kolonialis dari politik dan politikus eropa (dan dunia barat pada umumnya). [Mentalitas itu pulalah yang meracuni gereja kristen sampai menit dan detik ini dalam penghayatan hidup keiamannya yang sehat dan membebaskan sebagai rasul sejati dari Yesus orang Nazaret, yang juga digelar sebagai Kristus-saudara yang damai dan berbelaskasih]. Dengan demikian pemberian hadiah Nobel Perdamaian bagi masyarakat Eropa, menurut kesederhanaan hemat kami, ibarat suatu tindakan “membuang emas atau mutiara atau intan mulia lainnya di dalam sebuah kandang babi”. Mungkin saja bahwa tindakan itu merupakan suatu ironi politik halus dengan dibarengi suatu harapan yang terselip bahwa dengan demikian, kiranya institusi itu dapat sadar diri dan mampu mendengar seruan nurani kemanusiaannya yang luhur bahwa tidak ada kebutuhan apa pun untuk membangun perDAMAIan, keADILan, keBEBASan dan HAK ASASI lewat konfrontasi senjata (peperangan). Dari sudut pandang ini, aksi pemberian hadiah Nobel kurang lebih dapat dipahami, namun tanpa ada kredibilitas dari POLITIK yang BENAR, SEHAT dan BERWIBAWA lagi JUJUR dan TRANSPARAN sebagaimana diharapkan oleh dunia. Tidak pernah boleh dan tidak diperbolehkan kepada siapa pun utnuk mempergunakan kebebasan sewenang wenang untuk mentransformasikan institusi politik yang serius mana pun yang mengemban tugas untuk senantiasa berjuang demi mempromosi dan mensisiabilisasikan keBENARan dan keAGUNGan dari pribadi manusia serta kwualitas aksi politiknya yang sehat demi dunia yang semakin manusiawi, semakin adil dan juju dimana meraja keDAMAIan yang sejati,  keADILan yang yang seimbang dan dijiwai semangat solidaritas HAK ASASI yang adalah merupakan nilai sakral dari setiap insan manusia, menjadi seolah suatu panggung pentas lawak dengan bendera politik untuk membangkitkan gelak tawa diam laksana penutup rasa kemaluan moral kehidupan belaka.
                                                  (L. Betekeneng)

quinta-feira, 11 de outubro de 2012

“SENSUS FIDEI” – 50 TAHUN SESUDAHNYA

Lima puluh tahun sudah berlalu dan seruan tentang penyelamatan dan revalorisasi nyata akan arti, makna dan manfaat dari pengalaman hidup iman dari tiap umat Tuhan akan kasih Allah yang tak terbatas, yang menjiwai inspirasi dari Konsili Vatikan II, masih tersimpan di dalam laci laci meja dan rak rak buku pustaka dari kaum hierarki. Vatikan II, melalui suara kenabian yang berseru di padang gurun ekklesial” (ecclesia, Qahal YHWH), Paus Yohanes ke XXIII, mengajak semua umat kristen untuk kembali minum dari kebeningan Sumber Hidup (Sabda Allah dan Yesus dari Nazaret). Selain itu, Vat. II juga mengajak seluruh umat beriman dan semua yang berkehendak baik untuk membuka diri dan bersedia untuk berdialog dengan semua dan untuk semua demi membangun suatu dunia baru yang lebih manusiawi dan mampu untuk hidup saling berdampingan, suatu dunia baru yang adil, jujur, damai, sejahtera dan dalam iklim yang penuh persaudaraan, dimana hak asasi dari semua insan dilindungi, kebesan hidup iman inculturasi dijunjung nilainya, dihargai serta dipelihara, dan dengan demikian “Allah yang esah dan satu itu akan menjadi satu satunya pusat referensial kehidupan, aksi dan interaksi, baik itu antara semua umat manusia mau pun berhubungan dengan semua alam ciptaan” (lih. 1Kor 15,28). Kenyataannya, seruan ini – samapai kini, begitulah sesuai evaluasi umum akhir akhir ini menyongsong perayaan 50 tahun Vat II – hanya diasimilasi oleh, tidak lebih dari 20% kaum klerus, yang kebetulan masih merasa tuan dan cenderung untuk mendominasi gereja-umat-Allah, sementara umat baptis lainnya masih terus diperlakukan seolah klien yang datang mengemis berkat. Realita menunjukan bahwa pada hakikatnya tidak semua klerus mampu memahami dengan tepat dan jelas akan inspirasi dan pesan pesan dari Vat. II. Sebahagian kecil kelompok dari kalangan ini memahaminya secara kurang lebih, tetapi enggan untuk mengaplikasikannya dalam hidup menggereja; hanya ada beberapa dari mereka memahaminya dengan baik, tetapi tidak punya nyali yang cukup kuat makanya tidak mau merealisasikannya karena takut akan kehilangan P³-nya: Posisi, Potensi (atau dominasi) dan  Prestise. Dunia berputar dengan kecepatan 100. 000 km/jam tetapi gereja instusional dengan struktur hierarkinya yang lapuk lagi berat hanya mampu berjalan 10 meter/jam.
Apa arti yang sebenarnya dari “Sensus Fidei”? Dan mengapa “Sensus Fidei”? Unutk apa dan, atau apa peranan dari “Sensus Fidei” dalam konteks kehidupan menggereja dan mendunia? Apa dasar teologis dari “Sensus Fidei”? Baiklah dibedakan sebelumnya antara “sensus fidei”, “sensus fidelium” dan “consensus fidelium”. “Sensus fidei” adalah menyangkut pengalaman iman individu; sementara “sensus fidelium” berbicara tentang pengalaman iman komunitas yang adalah dibangun atas dasar pengalaman iman tiap tiap pribadi (“sensus fidei”). Sedangkan “consensus fidelium” adalah berkaitan dengan kesepakatan akan hal hal hidup keimanan (seperti dogma iman akan Allah Tritunggal, Ysus sebagai wahyu Allah di dunia, dll) dalam kebersamaan sehari hari. Baik “sensus fidei”, “sensus fidelium” mau pun “consensus fidelium” semuanya memliki dinamika yang tinggi, artinya tidak statis, karena Allah itu adalah Roh yang hidup dan bergerak serta senanasa beraktualisasi sesuai sikon (situasi dan kondisi).
Secara etimologis term “sensus fidei”, berasal dari bahasa latin. Kata “sensus” dipahami sebagai rasa, sensasi atau intuisi jiwa karena sentuhan kasih Allah, yang memiliki makna, arti atau nilai yang dalam dan kompleks bagi hidup insani. Sementara kata “fidei” diartikan sebagai iman, suatu sikap penyerahan batin (jawaban manusia akan sentuhan cinta Tuhan), merupakan “Amin” total dari umat manusia terhadap “Ya” mutlak (absolut) dari Allah.  “Amin” dari ciptaan atas “Ya” dari Pencipta, semuanya mendapat kepenuhannya dalam diri dan hidup dan aksi dari Yesus dari Nazaret. Ketiannya di kayu salib merupakan bukti ke”Aminan” totalnya terhadap “Ya” mutlak dari cinta Allah yang disapanya sebagai Abba atau Bapa yang juga adalah merupakan Bapa dari kita semua umat manusia. Menurut Dario Vitalis, term “sensus” memiliki kesamaan makna dengan term yunani “aisthesis” yang artinya persepsi, sensasi atau rasa yang menunjukan kepada salah satu tipe pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret kehidupan sehari hari, yang mencakup kelima indra manusia (lih. VITALI, Dario. Sensus fidelium – uma funzione ecclesiale di intelligenza della fede. Brescia, Marcellinana, 1993, hal. 148).
Pengalaman iman tiap pribadi itu amat sangat penting untuk membangun hidup bersama dalam komunitas/keluarga Allah. Dia adalah merupaka elemen dasar, batu sendi kehidupan, pribadi dan bersama. Tuhan menciptakan tiap pribadi secara terpisah – waktu mau pun tempat – kemudian digabungkannya dalam kelompok untuk membentuk komunitas kehidupan interdependen yang bebas dan bertanggungjawab sebagai anak anak Allah. Tidak ada komunitas yang dibentuk tanpa individu dan sebaliknya, tidak ada individu yang tidak datang dari komunitas/keluarga kehidupan. Perlu selalu diingat bahwa dasar keimanan kristen dibangun ataas asas Tritunggal Maha Kudus. Itu artinya bahwa pengalaman iman Allah dari orang orang kristen bukanlah Allah yang terisolasi, individualisme, terkurung dalam kesepian tetapi Allah komunitas-relasi-unitas-komunikasi. Iman akan Allahnya Yesus dari Nazaret mensuperasikan pengalaman iman akan Allah yang terbatas (Tuhanku, Allah dan  Bapa dari nenek moyang kita) dan memperluar pengalaman iman akan Allah yang luas dan mencakup semua insan manusia (Allah kita semua, Bapaku dan Bapamu pula). Karena dan dalam darah Yesus dari Nazaret membuat kita semua umat manusia menjadi saudara satu sama lain, entah dari jenis pengalaman iman mana pun akan Allah yang eash dan satu itu dan dari generasi mana pun. Orang bisa saja menolak pengalaman iman akan Allah dari Yesus orang Nazaret itu, tetapi Yesus sendiri sudah mendeklarasikan bahwa Ia tidak akan menolak siapapun karena cintanya. Perbedaan bukanlah alasan untuk memecahbelahkan persatuan persaudaraan, sebaliknya ia menjadi sarana yang semakin memperkaya kehidupan bersama, dan persamaan adalah dasar untuk memperkuat rasa persatuan. Dengan demikian hidup kita bersama akan menjadi semaki kaya dan kuat karena diperkaya dan diperkuat oleh perbedaan dan persamaan kita. Sayangnya bahwa Gereja, sampai milenium ke 3 ini masih berbauh klerikalis, kaum wanita masih didiskriminasikan dalam kehidupan gereja, umat baptis-tidak-ordenasi masih dikelaskambingkan, feodalisme masih amat kuat dalam organisasi gereja: semuanya datang dari atas dan umat basis dipaksa untuk menerimanya dengan mata tertutup dan pikiran kekritisan terpenjara. Pengalaman iman akan Allah dalam kultur dan budaya lokal masih tidak mendapat perhatian dari gereja institusional. Artinya ide Allah masih merupakan bahan expor dari Eropa, yang bernuansakan pengalaman iman kolonial yang memperbudak dan tentunya tidak membawa keselamatan. Gereja gereja lokal masih diperlakukan seperti koridos Roma. Kalau penghayatan hidup kristen sedemikian ini, apa yang mau ia sumbangkan kepada dunia? Berangkat dari realita ini, dapat dikatakan bahwa hidup gereja kristen masih amat jauh dari Kristus Yesus orang Nazaret. Hierarki perlu sadar diri bahwa dia bukanlah gereja yang utama dan terisolasi tetapi merupakan bahagian dari gereja-umat baptis bersama dengan yang lain. Penting disadari bahwa hidup selibat kongregasional bukanlah yang terbaik dan teristimewah dari pada hidup perkawinan mau pun hidup selibat populer di tengah keluarga dan masyarakat.
Dalam kehidupan menggereja, pengalaman iman pribadi itu penting untuk mempersatukan semua umat baptis dalam usaha membangun kehidupan relasi dan interaksi yang semakin persaudaraan yang erat, tulus dan murni, sebagaimana nasehat (petuah) biblis (lih. Mat 23, 8-12; Mak 3,35; 1Kor 12,9-13). Perlu diingat bahwa tidak ada satu pengalaman iman yang lebih baik dari pengalaman iman yang lain. Tuhan tidak membuat perbedaan seperti itu. Roh Allah memanifestasikan dirinya kepada semua orang – baptis – tanpa diskriminasi karena peran, status sosial dan ekonomi, gelar, budaya, bahasa, dll. (lih. LG no. 12). Dalam Roh kasih Allah yang membangkitkan Yesus, yang disebut Kristus-Saudara yang berbelaskasih, membuat kita menyapa Allah sebagai Abba, itu artinya bahwa kita semua yang hidup dalam komunitas iman ekklesial memiliki Allah Tritunggal sebagai Bapa dan kita semua adalah saudara. Inilah proyek dari Yesus dari Nazaret bagi para pengikutnya. Yesus menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup menuju Allah bagi semua yang percaya dan mengikutinya. Itu berarti bahwa Dia bukanlah tujuan akhir kehidupan iman kristen, tetapi jalan. Jalan dibuatnya untuk berjalan dan berjalan terus dan bukan untuk membuka kemah kemah untuk berhenti. Dasar teologis dari pengalaman iman pribadi dan komunitas di sini adalah sacramen Baptis. Dalam dan melalui pembaptisan, kita semua menjadi anak-anak Allah dan ahliwaris keselamatan bersama Yesus Kristus.
Dalam kehidupan mendunia, pengalaman iman persaudaraan inilah menjadi landasan hidup dan pedoman aksi dan relasi dari umat kristen dengan sesama umat manusia dari berbagai jenis pengalaman iman dan filsafat keagamaan lainnya. Dasar teologisnya ialah bahwa Allah menciptakan semua umat manusia – pria dan wanita – sesuai gambar dan rupanya sendiri dan dikaruniai dengan Roh yang satu dan sama dari Allah yang satu dan esah yang disaksikan oleh Yesus Kristus lewat kematiannya di kayu salib cintanya.
_______&&&_______
Kiranya sharing saya yang sederhana ini dapat bermanfaat buat anda semua dalam menghayati hidup iman persaudaraan dalam Yesus baik dalam gereja mau pun di dunia.
L. Betekeneng

domingo, 7 de outubro de 2012

KAUL KEKAL?

Mendengar bahwa ada enam konfrater yang mengikrarkan “kaul kekal” mereka, hal ini mendorong saya untuk mau mensharingkan refleksi saya yang sederhana ini dengan mereka semua, dan juga dengan konfrater lainnya yang berminat.
Apa arti kekekalan dari suatu kaul kebiaraan (kemurnian, kemiskinan, ketaatan) dalam dunia sekarang ini? Apakah ia merupakan tujuan akhir dari suatu harapan pencarian atau sekedar sarana penyandang mula dari suatu awal perjuangan? Manakah yang sungguh pantas disebut “kaul” (ikrar niat) berdasarkan nasehat Injil dan manakah yang disebut sugesti disipliner? Apa tujuan yang mendasar (pertama dan utama) dari hidup selibat kongregasional? Apa arti hidup selibat kongregasional atau membiara (juga selibat populer dan konjugal) dalam konteks teologi panggilan? Kekeliruan dalam memahami siapa Allah, dapat menimbulkan masalah besar bagi kehidupan relasi dan interaksi. Allah dapat ditransformasikan menjadi pribadi yang bengis, pendendam lagi sadis, dan dapat dijadikan alat pencambuk untuk menyiksa diri sendiri dan orang lain (mentalitas sadomasokisme).
Begitulah debu debu pertanyaan reflektif menghembus menerpa tirai pikiran dan imajinasi dari orang orang yang mau menyelami lebih dalam lagi ke dasar rahasia kasih Allah yang terselubung dalam kehidupan konkret manusia sehari hari. Term “kekal” sudah memberikan suatu konotasi “statis”, tak berubah, tak tergoyahkan, permanen, untuk selama lamanya. Adakah sesuatu di dunia ini tak tergoyahkan? Adakah susuatu di muka bumi ini bertahan sepanjang segala abad? Bila dibuat suatu analisa dan refleksi secara lebih kritis tentang term yang digunakan dengan realita di muka bumi kini dan pada masa lalu, maka kita dapat mengambil kesimpulan akhir bahwa semua yang ada di dunia ini adalah amat sangat relatif, hanya sementara belaka. Mulai dari kehidupan manusia itu sendiri sudah jelas bahwa adalah suatu hal yang sejenak saja, ibarat rumput yang tumbuh di pagi hari dan sorehnya sudah layu dan mati. Di manakah terdapat kekekalannya? Dengan demikian term “kekal” tidak sesuai (kontradiksi) dengan realita. Juga tidak mempunyai dasar teologis mau pun filosofis yang kuat. Lebih merupaka sugesti psikologis dan ideologi politik religius dari pada teologi. Kitab suci sendiri menekankan relativitas dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Menurut penulis kudus Qohelet, semua yang ada di muka bumi ini ada waktunya (lih. Pkh 3,1-9). Semua ciptaan Allah selalu ada awal dan akhir. Itu sudah menjelaskan bahwa hidup dan kehidupan bukanlah sesuatu yang statis, sebaliknya merupakan suatu yang mempunyai dinamika yang amat tak terduga oleh pikiran manusia. Itulah buktinya bahwa apa yang dipikirkan oleh Allah selalu bertentangan dengan apa yang dipahami oleh intelek manusia (lih. Yes 55,8-9). Kestatisan ideologi pemikiran manusia membuatnya sering cemburu bahkan kejam dan sampai pendendam ketika akhirnya mengenal ketidakmampuannya untuk memahami dinamisme hidup Allah dalam perubahan perubahan kehidupan manusia sehari hari yang begitu cepatnya. Itulah merupakan tantangan kita kaum biarawan biarawati yang hidup meradikalisasikan ideologi fiktif sebagai pegangan dari pada berkembang menjadi dewasa dan kritis sesuai realitas alami. Hal hal khayalan membuat orang hidup melayang diudara dan baru terkejut setelah dihempas dan dibanting ke tanah oleh arus angin Allah. Di situ barulah tiba saatnya sadar bahwa ternyata kakinya selama ini berada penuh dengan debu dan lumpur di alam fana.
Pengikraran kaul kaul kebiaraan kendati memiliki kesementaraan yang begitu besar namun diwujudkan selalu dalam suasana selebrasi yang agung lagi hikmat. Sebagaimana pula perkawinan, biarpun memiliki sifat kefanaan yang amat nyata namun selalu dirayakan dalan suatu iklim ritus yang mulia dan penuh kesakralan. Makna dari dimensi religius akan keagungan, kehikmatan, kemuliaan dan kesakralan yang memenuhi iklim batin selama perayan inilah yang memberikan arti kekekalan penghayatan nilai janji niat yang lahir dari kemurnian nurani yang tersimpulkan dalam pengikraran kaul kaul kebiaraan (dan ordenasi imamat mau pun perkawinan). Kwantitas dari perubahan secara terus-menerus dari kehidupan manusia sehari hari tidak mempengaruhi kualitas cinta Allah terhadap ciptaanNya.
Kaul kebiaraan jelasnya bukan tujuan dari hidup religius, tetapi adalah suatu sarana. Nilai nilai religius dari kaul di atas hanya mempunyai arti nyata bila biarawan dan biarawati mampu mewujudkannya secara konkret dalam kehidupan relasi dan interaksinya, baik dalam komunitas hidup persaudaraan mau pun dalam karya. Dalam “budaya cair” dari zaman pos-modern ini yang menekan nilai kebebasan dan penghargaan akan hak asasi tiap tiap pribadi yang adalah elemen dasar pembentukan kehidupan berkomunitas, amat perlu ditekankan selalu kesederhaan hati untuk saling mendengarkan, semangat solidaitas yang sehat dan saling membangun serta kesetiaan dan transparansi dalam relasi dan interaksi antar sesama dalam komunitas mau pun antar jender dalam kehidupan sosial dan dalam karya di masyarakat.
Dari ketiga kaul kebiaraan, menurut hemat kami, hanya ada dua (kesederhaan hati untuk saling mendengarkan atau “ketaatan”, dan semangat solidaritas yang membebaskan atau “kemiskinan”) yang memiliki dasar teologis biblis sebagai nasehat injili yang diangkat manjadi inspirasi dasar pengucapan janji niat batin yang berfungsi sebagai sarana untuk mancapai tujuan utama hidup membiara. Sedangkan kaul tak menikah adalah merupakan sugesti disipliner dan tidak memiliki dasar teologis biblis yang kuat dan konkret, yang pantas untuk disebut sebagai kaul. Karena kata kaul itu sendiri sudah mempunyai nuansa teologis, antropologis, filosofis dan mistik/religius yang cukup kompleks dan dalam maknanya.
Allah tidak pernah sekali pun memanggil orang orang dan digirngnya ke dalam suatu sarang (kandang) kehidupan selayaknya hewan. Panggilan adalah merupakan hasil pertemuan dari dua kebebasan: dari Pencipta dan dari ciptaan; adalah buah dari interkomunikasi yang sadar dan terbuka dari dua cinta: Ilahi dan insani; hasil relasi dan interaksi kasih yang sehat dan dewasa dari dua pribadi: Allah dan manusia. Singkatnya, panggilan adalah, di satu pihak, merupakan aksi bebas dan ragkmat dari Allah dan, di lain pihak, merupakan reaksi bebas (jawaban) dan usaha dari manusia. Tuhan mengundang manusia untuk turut ambil bahagian dalam kebahagiian surgawi, mulai saat ini, kini dan di sini, dan dalam menjawab undngan Allah itu manusia memilih bentuk hidup yang diyakininya sebagai jalan yang dapat menjamin perwujudan undangan kebahagiaan Allah itu. Tujuan hidup membiara adalah menjadi tanda hidup dari kehadiran Allah di dunia. Agar tanda kehadiran Allah itu dapat menjadi nyata dalam kehidupan umat manusia maka perlulah pelayanan misi penginjilan, lewat karya karya karitas yang membebaskan. Biarawan dan biarawati menyerahkan dirinya secara bebas untuk menjadi alat Allah: mata telinga, pikiran, perasaan dan kehendak, tangan dan kaki. Itu semua Tuhan membutuhkan dari kita manusia. Tuhan tidak memaksa siapa pun, Ia hanya mengundang dalam dan karena cinta, terserah jawaban manakah manusia mau memberikan kepadaNya. Tuhan tidak menuntut kurban, entah bakaran entah sembelihan; yang Ia inginkan adalah belaskasih semata (lih. Mat 9,13). Pengikraran “kaul kekal” bukanlah hal yang luar biasa, itu kurang penting. Yang terpenting adalah penghayatan nilai kekelan religius dari kaul kaul dalam kehidupan konkret, di tengah suasana relasi dan interaksi dengan sesama dan antar jender yang bernuansakan iklim kejujuran, keadilan, sehat dan dewasa, kreatif dan bertanggungjawab. Inilah yang dapat memberikan kredibilitas dari makna keagungan, kehikmatan, kemuliaan dan kesakralan dari pengikraran niat batin, baik dalam hidup membiara, hidup di tengah masyarakat mau pun hidup konjugal atau keluarga.
________&&&_______
L. Betekeneng.