domingo, 7 de outubro de 2012

KAUL KEKAL?

Mendengar bahwa ada enam konfrater yang mengikrarkan “kaul kekal” mereka, hal ini mendorong saya untuk mau mensharingkan refleksi saya yang sederhana ini dengan mereka semua, dan juga dengan konfrater lainnya yang berminat.
Apa arti kekekalan dari suatu kaul kebiaraan (kemurnian, kemiskinan, ketaatan) dalam dunia sekarang ini? Apakah ia merupakan tujuan akhir dari suatu harapan pencarian atau sekedar sarana penyandang mula dari suatu awal perjuangan? Manakah yang sungguh pantas disebut “kaul” (ikrar niat) berdasarkan nasehat Injil dan manakah yang disebut sugesti disipliner? Apa tujuan yang mendasar (pertama dan utama) dari hidup selibat kongregasional? Apa arti hidup selibat kongregasional atau membiara (juga selibat populer dan konjugal) dalam konteks teologi panggilan? Kekeliruan dalam memahami siapa Allah, dapat menimbulkan masalah besar bagi kehidupan relasi dan interaksi. Allah dapat ditransformasikan menjadi pribadi yang bengis, pendendam lagi sadis, dan dapat dijadikan alat pencambuk untuk menyiksa diri sendiri dan orang lain (mentalitas sadomasokisme).
Begitulah debu debu pertanyaan reflektif menghembus menerpa tirai pikiran dan imajinasi dari orang orang yang mau menyelami lebih dalam lagi ke dasar rahasia kasih Allah yang terselubung dalam kehidupan konkret manusia sehari hari. Term “kekal” sudah memberikan suatu konotasi “statis”, tak berubah, tak tergoyahkan, permanen, untuk selama lamanya. Adakah sesuatu di dunia ini tak tergoyahkan? Adakah susuatu di muka bumi ini bertahan sepanjang segala abad? Bila dibuat suatu analisa dan refleksi secara lebih kritis tentang term yang digunakan dengan realita di muka bumi kini dan pada masa lalu, maka kita dapat mengambil kesimpulan akhir bahwa semua yang ada di dunia ini adalah amat sangat relatif, hanya sementara belaka. Mulai dari kehidupan manusia itu sendiri sudah jelas bahwa adalah suatu hal yang sejenak saja, ibarat rumput yang tumbuh di pagi hari dan sorehnya sudah layu dan mati. Di manakah terdapat kekekalannya? Dengan demikian term “kekal” tidak sesuai (kontradiksi) dengan realita. Juga tidak mempunyai dasar teologis mau pun filosofis yang kuat. Lebih merupaka sugesti psikologis dan ideologi politik religius dari pada teologi. Kitab suci sendiri menekankan relativitas dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Menurut penulis kudus Qohelet, semua yang ada di muka bumi ini ada waktunya (lih. Pkh 3,1-9). Semua ciptaan Allah selalu ada awal dan akhir. Itu sudah menjelaskan bahwa hidup dan kehidupan bukanlah sesuatu yang statis, sebaliknya merupakan suatu yang mempunyai dinamika yang amat tak terduga oleh pikiran manusia. Itulah buktinya bahwa apa yang dipikirkan oleh Allah selalu bertentangan dengan apa yang dipahami oleh intelek manusia (lih. Yes 55,8-9). Kestatisan ideologi pemikiran manusia membuatnya sering cemburu bahkan kejam dan sampai pendendam ketika akhirnya mengenal ketidakmampuannya untuk memahami dinamisme hidup Allah dalam perubahan perubahan kehidupan manusia sehari hari yang begitu cepatnya. Itulah merupakan tantangan kita kaum biarawan biarawati yang hidup meradikalisasikan ideologi fiktif sebagai pegangan dari pada berkembang menjadi dewasa dan kritis sesuai realitas alami. Hal hal khayalan membuat orang hidup melayang diudara dan baru terkejut setelah dihempas dan dibanting ke tanah oleh arus angin Allah. Di situ barulah tiba saatnya sadar bahwa ternyata kakinya selama ini berada penuh dengan debu dan lumpur di alam fana.
Pengikraran kaul kaul kebiaraan kendati memiliki kesementaraan yang begitu besar namun diwujudkan selalu dalam suasana selebrasi yang agung lagi hikmat. Sebagaimana pula perkawinan, biarpun memiliki sifat kefanaan yang amat nyata namun selalu dirayakan dalan suatu iklim ritus yang mulia dan penuh kesakralan. Makna dari dimensi religius akan keagungan, kehikmatan, kemuliaan dan kesakralan yang memenuhi iklim batin selama perayan inilah yang memberikan arti kekekalan penghayatan nilai janji niat yang lahir dari kemurnian nurani yang tersimpulkan dalam pengikraran kaul kaul kebiaraan (dan ordenasi imamat mau pun perkawinan). Kwantitas dari perubahan secara terus-menerus dari kehidupan manusia sehari hari tidak mempengaruhi kualitas cinta Allah terhadap ciptaanNya.
Kaul kebiaraan jelasnya bukan tujuan dari hidup religius, tetapi adalah suatu sarana. Nilai nilai religius dari kaul di atas hanya mempunyai arti nyata bila biarawan dan biarawati mampu mewujudkannya secara konkret dalam kehidupan relasi dan interaksinya, baik dalam komunitas hidup persaudaraan mau pun dalam karya. Dalam “budaya cair” dari zaman pos-modern ini yang menekan nilai kebebasan dan penghargaan akan hak asasi tiap tiap pribadi yang adalah elemen dasar pembentukan kehidupan berkomunitas, amat perlu ditekankan selalu kesederhaan hati untuk saling mendengarkan, semangat solidaitas yang sehat dan saling membangun serta kesetiaan dan transparansi dalam relasi dan interaksi antar sesama dalam komunitas mau pun antar jender dalam kehidupan sosial dan dalam karya di masyarakat.
Dari ketiga kaul kebiaraan, menurut hemat kami, hanya ada dua (kesederhaan hati untuk saling mendengarkan atau “ketaatan”, dan semangat solidaritas yang membebaskan atau “kemiskinan”) yang memiliki dasar teologis biblis sebagai nasehat injili yang diangkat manjadi inspirasi dasar pengucapan janji niat batin yang berfungsi sebagai sarana untuk mancapai tujuan utama hidup membiara. Sedangkan kaul tak menikah adalah merupakan sugesti disipliner dan tidak memiliki dasar teologis biblis yang kuat dan konkret, yang pantas untuk disebut sebagai kaul. Karena kata kaul itu sendiri sudah mempunyai nuansa teologis, antropologis, filosofis dan mistik/religius yang cukup kompleks dan dalam maknanya.
Allah tidak pernah sekali pun memanggil orang orang dan digirngnya ke dalam suatu sarang (kandang) kehidupan selayaknya hewan. Panggilan adalah merupakan hasil pertemuan dari dua kebebasan: dari Pencipta dan dari ciptaan; adalah buah dari interkomunikasi yang sadar dan terbuka dari dua cinta: Ilahi dan insani; hasil relasi dan interaksi kasih yang sehat dan dewasa dari dua pribadi: Allah dan manusia. Singkatnya, panggilan adalah, di satu pihak, merupakan aksi bebas dan ragkmat dari Allah dan, di lain pihak, merupakan reaksi bebas (jawaban) dan usaha dari manusia. Tuhan mengundang manusia untuk turut ambil bahagian dalam kebahagiian surgawi, mulai saat ini, kini dan di sini, dan dalam menjawab undngan Allah itu manusia memilih bentuk hidup yang diyakininya sebagai jalan yang dapat menjamin perwujudan undangan kebahagiaan Allah itu. Tujuan hidup membiara adalah menjadi tanda hidup dari kehadiran Allah di dunia. Agar tanda kehadiran Allah itu dapat menjadi nyata dalam kehidupan umat manusia maka perlulah pelayanan misi penginjilan, lewat karya karya karitas yang membebaskan. Biarawan dan biarawati menyerahkan dirinya secara bebas untuk menjadi alat Allah: mata telinga, pikiran, perasaan dan kehendak, tangan dan kaki. Itu semua Tuhan membutuhkan dari kita manusia. Tuhan tidak memaksa siapa pun, Ia hanya mengundang dalam dan karena cinta, terserah jawaban manakah manusia mau memberikan kepadaNya. Tuhan tidak menuntut kurban, entah bakaran entah sembelihan; yang Ia inginkan adalah belaskasih semata (lih. Mat 9,13). Pengikraran “kaul kekal” bukanlah hal yang luar biasa, itu kurang penting. Yang terpenting adalah penghayatan nilai kekelan religius dari kaul kaul dalam kehidupan konkret, di tengah suasana relasi dan interaksi dengan sesama dan antar jender yang bernuansakan iklim kejujuran, keadilan, sehat dan dewasa, kreatif dan bertanggungjawab. Inilah yang dapat memberikan kredibilitas dari makna keagungan, kehikmatan, kemuliaan dan kesakralan dari pengikraran niat batin, baik dalam hidup membiara, hidup di tengah masyarakat mau pun hidup konjugal atau keluarga.
________&&&_______
L. Betekeneng.

Nenhum comentário:

Postar um comentário