quinta-feira, 11 de outubro de 2012

“SENSUS FIDEI” – 50 TAHUN SESUDAHNYA

Lima puluh tahun sudah berlalu dan seruan tentang penyelamatan dan revalorisasi nyata akan arti, makna dan manfaat dari pengalaman hidup iman dari tiap umat Tuhan akan kasih Allah yang tak terbatas, yang menjiwai inspirasi dari Konsili Vatikan II, masih tersimpan di dalam laci laci meja dan rak rak buku pustaka dari kaum hierarki. Vatikan II, melalui suara kenabian yang berseru di padang gurun ekklesial” (ecclesia, Qahal YHWH), Paus Yohanes ke XXIII, mengajak semua umat kristen untuk kembali minum dari kebeningan Sumber Hidup (Sabda Allah dan Yesus dari Nazaret). Selain itu, Vat. II juga mengajak seluruh umat beriman dan semua yang berkehendak baik untuk membuka diri dan bersedia untuk berdialog dengan semua dan untuk semua demi membangun suatu dunia baru yang lebih manusiawi dan mampu untuk hidup saling berdampingan, suatu dunia baru yang adil, jujur, damai, sejahtera dan dalam iklim yang penuh persaudaraan, dimana hak asasi dari semua insan dilindungi, kebesan hidup iman inculturasi dijunjung nilainya, dihargai serta dipelihara, dan dengan demikian “Allah yang esah dan satu itu akan menjadi satu satunya pusat referensial kehidupan, aksi dan interaksi, baik itu antara semua umat manusia mau pun berhubungan dengan semua alam ciptaan” (lih. 1Kor 15,28). Kenyataannya, seruan ini – samapai kini, begitulah sesuai evaluasi umum akhir akhir ini menyongsong perayaan 50 tahun Vat II – hanya diasimilasi oleh, tidak lebih dari 20% kaum klerus, yang kebetulan masih merasa tuan dan cenderung untuk mendominasi gereja-umat-Allah, sementara umat baptis lainnya masih terus diperlakukan seolah klien yang datang mengemis berkat. Realita menunjukan bahwa pada hakikatnya tidak semua klerus mampu memahami dengan tepat dan jelas akan inspirasi dan pesan pesan dari Vat. II. Sebahagian kecil kelompok dari kalangan ini memahaminya secara kurang lebih, tetapi enggan untuk mengaplikasikannya dalam hidup menggereja; hanya ada beberapa dari mereka memahaminya dengan baik, tetapi tidak punya nyali yang cukup kuat makanya tidak mau merealisasikannya karena takut akan kehilangan P³-nya: Posisi, Potensi (atau dominasi) dan  Prestise. Dunia berputar dengan kecepatan 100. 000 km/jam tetapi gereja instusional dengan struktur hierarkinya yang lapuk lagi berat hanya mampu berjalan 10 meter/jam.
Apa arti yang sebenarnya dari “Sensus Fidei”? Dan mengapa “Sensus Fidei”? Unutk apa dan, atau apa peranan dari “Sensus Fidei” dalam konteks kehidupan menggereja dan mendunia? Apa dasar teologis dari “Sensus Fidei”? Baiklah dibedakan sebelumnya antara “sensus fidei”, “sensus fidelium” dan “consensus fidelium”. “Sensus fidei” adalah menyangkut pengalaman iman individu; sementara “sensus fidelium” berbicara tentang pengalaman iman komunitas yang adalah dibangun atas dasar pengalaman iman tiap tiap pribadi (“sensus fidei”). Sedangkan “consensus fidelium” adalah berkaitan dengan kesepakatan akan hal hal hidup keimanan (seperti dogma iman akan Allah Tritunggal, Ysus sebagai wahyu Allah di dunia, dll) dalam kebersamaan sehari hari. Baik “sensus fidei”, “sensus fidelium” mau pun “consensus fidelium” semuanya memliki dinamika yang tinggi, artinya tidak statis, karena Allah itu adalah Roh yang hidup dan bergerak serta senanasa beraktualisasi sesuai sikon (situasi dan kondisi).
Secara etimologis term “sensus fidei”, berasal dari bahasa latin. Kata “sensus” dipahami sebagai rasa, sensasi atau intuisi jiwa karena sentuhan kasih Allah, yang memiliki makna, arti atau nilai yang dalam dan kompleks bagi hidup insani. Sementara kata “fidei” diartikan sebagai iman, suatu sikap penyerahan batin (jawaban manusia akan sentuhan cinta Tuhan), merupakan “Amin” total dari umat manusia terhadap “Ya” mutlak (absolut) dari Allah.  “Amin” dari ciptaan atas “Ya” dari Pencipta, semuanya mendapat kepenuhannya dalam diri dan hidup dan aksi dari Yesus dari Nazaret. Ketiannya di kayu salib merupakan bukti ke”Aminan” totalnya terhadap “Ya” mutlak dari cinta Allah yang disapanya sebagai Abba atau Bapa yang juga adalah merupakan Bapa dari kita semua umat manusia. Menurut Dario Vitalis, term “sensus” memiliki kesamaan makna dengan term yunani “aisthesis” yang artinya persepsi, sensasi atau rasa yang menunjukan kepada salah satu tipe pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret kehidupan sehari hari, yang mencakup kelima indra manusia (lih. VITALI, Dario. Sensus fidelium – uma funzione ecclesiale di intelligenza della fede. Brescia, Marcellinana, 1993, hal. 148).
Pengalaman iman tiap pribadi itu amat sangat penting untuk membangun hidup bersama dalam komunitas/keluarga Allah. Dia adalah merupaka elemen dasar, batu sendi kehidupan, pribadi dan bersama. Tuhan menciptakan tiap pribadi secara terpisah – waktu mau pun tempat – kemudian digabungkannya dalam kelompok untuk membentuk komunitas kehidupan interdependen yang bebas dan bertanggungjawab sebagai anak anak Allah. Tidak ada komunitas yang dibentuk tanpa individu dan sebaliknya, tidak ada individu yang tidak datang dari komunitas/keluarga kehidupan. Perlu selalu diingat bahwa dasar keimanan kristen dibangun ataas asas Tritunggal Maha Kudus. Itu artinya bahwa pengalaman iman Allah dari orang orang kristen bukanlah Allah yang terisolasi, individualisme, terkurung dalam kesepian tetapi Allah komunitas-relasi-unitas-komunikasi. Iman akan Allahnya Yesus dari Nazaret mensuperasikan pengalaman iman akan Allah yang terbatas (Tuhanku, Allah dan  Bapa dari nenek moyang kita) dan memperluar pengalaman iman akan Allah yang luas dan mencakup semua insan manusia (Allah kita semua, Bapaku dan Bapamu pula). Karena dan dalam darah Yesus dari Nazaret membuat kita semua umat manusia menjadi saudara satu sama lain, entah dari jenis pengalaman iman mana pun akan Allah yang eash dan satu itu dan dari generasi mana pun. Orang bisa saja menolak pengalaman iman akan Allah dari Yesus orang Nazaret itu, tetapi Yesus sendiri sudah mendeklarasikan bahwa Ia tidak akan menolak siapapun karena cintanya. Perbedaan bukanlah alasan untuk memecahbelahkan persatuan persaudaraan, sebaliknya ia menjadi sarana yang semakin memperkaya kehidupan bersama, dan persamaan adalah dasar untuk memperkuat rasa persatuan. Dengan demikian hidup kita bersama akan menjadi semaki kaya dan kuat karena diperkaya dan diperkuat oleh perbedaan dan persamaan kita. Sayangnya bahwa Gereja, sampai milenium ke 3 ini masih berbauh klerikalis, kaum wanita masih didiskriminasikan dalam kehidupan gereja, umat baptis-tidak-ordenasi masih dikelaskambingkan, feodalisme masih amat kuat dalam organisasi gereja: semuanya datang dari atas dan umat basis dipaksa untuk menerimanya dengan mata tertutup dan pikiran kekritisan terpenjara. Pengalaman iman akan Allah dalam kultur dan budaya lokal masih tidak mendapat perhatian dari gereja institusional. Artinya ide Allah masih merupakan bahan expor dari Eropa, yang bernuansakan pengalaman iman kolonial yang memperbudak dan tentunya tidak membawa keselamatan. Gereja gereja lokal masih diperlakukan seperti koridos Roma. Kalau penghayatan hidup kristen sedemikian ini, apa yang mau ia sumbangkan kepada dunia? Berangkat dari realita ini, dapat dikatakan bahwa hidup gereja kristen masih amat jauh dari Kristus Yesus orang Nazaret. Hierarki perlu sadar diri bahwa dia bukanlah gereja yang utama dan terisolasi tetapi merupakan bahagian dari gereja-umat baptis bersama dengan yang lain. Penting disadari bahwa hidup selibat kongregasional bukanlah yang terbaik dan teristimewah dari pada hidup perkawinan mau pun hidup selibat populer di tengah keluarga dan masyarakat.
Dalam kehidupan menggereja, pengalaman iman pribadi itu penting untuk mempersatukan semua umat baptis dalam usaha membangun kehidupan relasi dan interaksi yang semakin persaudaraan yang erat, tulus dan murni, sebagaimana nasehat (petuah) biblis (lih. Mat 23, 8-12; Mak 3,35; 1Kor 12,9-13). Perlu diingat bahwa tidak ada satu pengalaman iman yang lebih baik dari pengalaman iman yang lain. Tuhan tidak membuat perbedaan seperti itu. Roh Allah memanifestasikan dirinya kepada semua orang – baptis – tanpa diskriminasi karena peran, status sosial dan ekonomi, gelar, budaya, bahasa, dll. (lih. LG no. 12). Dalam Roh kasih Allah yang membangkitkan Yesus, yang disebut Kristus-Saudara yang berbelaskasih, membuat kita menyapa Allah sebagai Abba, itu artinya bahwa kita semua yang hidup dalam komunitas iman ekklesial memiliki Allah Tritunggal sebagai Bapa dan kita semua adalah saudara. Inilah proyek dari Yesus dari Nazaret bagi para pengikutnya. Yesus menjadi Jalan, Kebenaran dan Hidup menuju Allah bagi semua yang percaya dan mengikutinya. Itu berarti bahwa Dia bukanlah tujuan akhir kehidupan iman kristen, tetapi jalan. Jalan dibuatnya untuk berjalan dan berjalan terus dan bukan untuk membuka kemah kemah untuk berhenti. Dasar teologis dari pengalaman iman pribadi dan komunitas di sini adalah sacramen Baptis. Dalam dan melalui pembaptisan, kita semua menjadi anak-anak Allah dan ahliwaris keselamatan bersama Yesus Kristus.
Dalam kehidupan mendunia, pengalaman iman persaudaraan inilah menjadi landasan hidup dan pedoman aksi dan relasi dari umat kristen dengan sesama umat manusia dari berbagai jenis pengalaman iman dan filsafat keagamaan lainnya. Dasar teologisnya ialah bahwa Allah menciptakan semua umat manusia – pria dan wanita – sesuai gambar dan rupanya sendiri dan dikaruniai dengan Roh yang satu dan sama dari Allah yang satu dan esah yang disaksikan oleh Yesus Kristus lewat kematiannya di kayu salib cintanya.
_______&&&_______
Kiranya sharing saya yang sederhana ini dapat bermanfaat buat anda semua dalam menghayati hidup iman persaudaraan dalam Yesus baik dalam gereja mau pun di dunia.
L. Betekeneng

Nenhum comentário:

Postar um comentário