Hadiah Nobel Perdamaian - 2012
“Jangan sekali kali membuang emas, mutiara atau permata mana pun di depan seekor babi”.
Begitulah suatu peribahasa kuno, namun tetap aktual maknanya, dalam kehidupan budaya sosial dunia timur. Alassannya sederhana saja tetapi jelas tujuan dan dalam maknanya. Alasan dari pepatah ini ialah – secara harafia – bahwa babi, seperti semua jenis babi lainnya, tidak mengerti apa itu emas, mutiara atau pun permata lainnya, juga tidak tahu apa nilainya bagi hidup, sebagaimana dimengerti oleh makluk rasional, sentimental dan yang berkemauan sehat lagi humanis layaknya insan manusia yang berbudi luhur dan agung. Memang kaum bijak di dunia timur, pada jaman dahulu, selalu memberikan petuah petuah kepada anak dan cucu mereka sebagai nasehat atau pun bimbingan hidup dalam bentuk peribahasa dan atau kiasan. Menurut mereka, metode ajaran seperti itu lebih dalam dan kaya, tahan masa lagi lebih memiliki dinamika yang besar dan senantiasa aktual fatwa kebijaksanaanya untuk hidup setiap manusia.
Pada kenyataan sehari hari bahwa ada manusia yang hanya menjujung rongga kepala dengan materi simbolis dari rasional (otak) di dalamnya tetapi tidak mempunyai daya rasionalisasi yang cukup matang dan dewasa sebagaimana layaknya manusia yang mempunyai watak sehat, seimbang dan berbudi luhur serta yang berperihkemanusiaan yang tinggi. Ada lain manusia pula yang sekedar memikul rongga dada dengan sumber simbolis dari rasa (hati) di dalamnya tetapi sudah mati rasa kelayakkan kepribadian insaninya sebagai makluk ciptaan yang memiliki sensibilisasi kehidupan kemanusiaan yang kompleks, yang sadar sungguh bahwa pribadinya sendiri adalah merupakan bahagian yang tak terpisahkan dari pribadi insani yang lain, dan juga sebaliknya, dalam konteks kehidupan sosial (insan interdependent) sehari hari. Dan masih ada pula orang orang yang semata menjinjing kotak pinggul dengan sepasang alat simbolis dari kapasitas kemauan (ginjal) atau sikap dan atau kehendak baik yang mampu menstimulasikan dan menuntun kehidupan relasi, aksi dan interaksi yang tertanggungjawab, baik demi kabahagiaan dan keselamatan hidupnya sendiri, orang lain mau pun kehidupan alam semesta pada umumnya, tetapi tidak lagi memiliki daya pengembangan keinginan kemanusiaan untuk bertindak secara konsisten dan konsekwen demi terjaminnya keselamatan dan kesejahteraan hidup bersama.
Jenis mentalitas kemanusiaan seperti inilah tujuan petuah atau nasehat kebijakan di atas ditujukan. Manusia, yang adalah hasil produksi dari sosietas, yang adalah hasil produksi dari manusia itu sendiri, memiliki sikap watak yang sering tidak dapat dipahami oleh otak sehat. Tetapi itu apa kaitannya dengan masalah politik? Kemarin, ketika saya mengikuti jurnal nasional lewat channel TV Gobo yang memberitakan tentang hadiah Nobel perdamaian untuk masyarakat Eropa. Berita ini, buat saya, merupakan lawak politik, atau suatu ironi yang tak terukur. Bukan hanya itu, juga merupakan suatu demonstrasi nyata akan diskredit dan diskrepansi dari politik dunia dalam kaitannya dengan apa yang sungguh menjadi KEBENARAN (faktual) politik dan apa itu DUSTA (fiktual) dari pribadi (atau kelompok) politikus yang ingin mengkudai institusi politik mana pun demi mempromosikan dirinya sendiri, dengan membagi bagikan hadiah hiburan, bagaikan santa klaus di masa menjelang Natal, sesuka hatinya dan sesuai keinginannya sendiri – tanpa memperhitungkan lebih jauh rasa politik internasional. Hemat saya, bila institusi yang memberikan hadiah Nobel itu merupakan suatu institusi politik yang sungguh amat sangat serius lagi jujur, dewasa dan bertanggungjawab, ia tidak akan melakukan hal itu seperti telah dibuatnya. Karena itu adalah suatu sikap nista terhadap institusi itu sendiri yang dipercayai dan diharapkan dapat berjuang demi menegakkan keBENARan dan keADILan di tengat sosietas dunia dengan cara cara yang lebih terpuji.
Kendati mungkin ada terselip maksud baik lainnya – dari sudut pandang politik - di balik keputusan itu, perealisasian (aksi) dari keputusan itu tidak sedikitpun menunjukan KEBENARAN NILAI dari aksi politik penghadiaan Nobel sebagai suatu tindakan sehat untuk berpolitik – di masa pos-moderen ini. Tinggal pertanyaan saya: tipe DAMAI macam manakah politik eropa telah melakukannya dengan sungguh sungguh dalam semangat kejujuran dan transparan bagi dunia, demi perDAMAIan itu sendiri (politik perdamaian dengan cara perdamaian, dalam semangat perdamaian dan untuk hidup perdamaian bagi semua insan manusia)? Bahagian dari dunia manakah yang lebih membuat memprovokasi dan mempromosikan pembantaian hidup manusia dari segala zaman dan masih terus membantai orang orang yang tak berdaya di dunia sampai saat ini? Serdado serdado dari belahan dunia manakah yang kini sedang membunuh orang orang kecil di berbagai sudut bumi, menyebarkan teror kehidupan bagi masyarakat dengan bertopengkan kedamaian, hak asasi, keadilan dan kebebasan?
Amatlah baik diingat senantiasa bahwa figur figur politik tiranis dan otoriter yang, memang disayangkan tetapi, masih memegang kekuasaan puncak di beberapa negara di berbagai belahan dunia saat ini, pada masa lalu adalah merupakan figur representatif (tangan kanan) dari mentalitas expansionisme dan kolonialis dari politik dan politikus eropa (dan dunia barat pada umumnya). [Mentalitas itu pulalah yang meracuni gereja kristen sampai menit dan detik ini dalam penghayatan hidup keiamannya yang sehat dan membebaskan sebagai rasul sejati dari Yesus orang Nazaret, yang juga digelar sebagai Kristus-saudara yang damai dan berbelaskasih]. Dengan demikian pemberian hadiah Nobel Perdamaian bagi masyarakat Eropa, menurut kesederhanaan hemat kami, ibarat suatu tindakan “membuang emas atau mutiara atau intan mulia lainnya di dalam sebuah kandang babi”. Mungkin saja bahwa tindakan itu merupakan suatu ironi politik halus dengan dibarengi suatu harapan yang terselip bahwa dengan demikian, kiranya institusi itu dapat sadar diri dan mampu mendengar seruan nurani kemanusiaannya yang luhur bahwa tidak ada kebutuhan apa pun untuk membangun perDAMAIan, keADILan, keBEBASan dan HAK ASASI lewat konfrontasi senjata (peperangan). Dari sudut pandang ini, aksi pemberian hadiah Nobel kurang lebih dapat dipahami, namun tanpa ada kredibilitas dari POLITIK yang BENAR, SEHAT dan BERWIBAWA lagi JUJUR dan TRANSPARAN sebagaimana diharapkan oleh dunia. Tidak pernah boleh dan tidak diperbolehkan kepada siapa pun utnuk mempergunakan kebebasan sewenang wenang untuk mentransformasikan institusi politik yang serius mana pun yang mengemban tugas untuk senantiasa berjuang demi mempromosi dan mensisiabilisasikan keBENARan dan keAGUNGan dari pribadi manusia serta kwualitas aksi politiknya yang sehat demi dunia yang semakin manusiawi, semakin adil dan juju dimana meraja keDAMAIan yang sejati, keADILan yang yang seimbang dan dijiwai semangat solidaritas HAK ASASI yang adalah merupakan nilai sakral dari setiap insan manusia, menjadi seolah suatu panggung pentas lawak dengan bendera politik untuk membangkitkan gelak tawa diam laksana penutup rasa kemaluan moral kehidupan belaka.
(L. Betekeneng)
Nenhum comentário:
Postar um comentário